Jumat, 10 Pebruari 2012

10 Terakhir Ramadhan, Ribuan Warga Gaza Sesaki Masjid Al-Omari

Selasa, 15/09/2009 14:16 WIB

KNRP – Menjelang berakhirnya Ramadhan pada 10 hari terakhir tampak terlihat Masjid Raya Al-Omari sangat semarak bak sarang lebah. Masjid tertua dan terbesar di Jalur Gaza itu sepanjang malamnya disesaki jamaah itikaf.

Masjid Al-Omari akan semakin semarak saat malam ke-27 tiba, yaitu malam yang diyakini akan turunnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Penduduk Gaza tampak menyiapkan malam-malam 10 terakhir Ramadhan itu sembari berdoa penuh khidmat kepada Allah.

Haji Abu Naeel (65 tahun), yang dibujuk oleh istri dan anak-anaknya agar ia mau beritikaf di masjid dekat rumahnya malah menolak bujukan itu. Ia bersikukuh untuk beritikaf di Masjid Raya Al-Omari Gaza, yang menurutnya sangat nyaman untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan.

Abu Naeel hanya salah satu dari ribuan jamaah yang beritikaf di masjid utama Gaza itu, meski banyak dari jamaah itu yang tinggal jauh dari Masjid Al-Omari. Demikian seperti ditulis islamonline, Senin (14/9).

Saeed Halabe, pria muda yang ikut beritikaf di Masjid Al-Omari, mengatakan, “Seolah-olah semua Gaza ada di sini. Semuanya menyebut tempat ini kalau ingin shalat khusyu dan tenang. Itikaf di sini makanannya khas.”

Jamaah lainnya Haji Abu Saleh (63 tahun) tidak bisa membayangkan kalau pada Ramadhan tidak shalat Tarawih di Masjid Al-Omari. “Lebih dari 10 tahun saya hanya beritikaf di sini. Masjid ini akan membuat Anda terhanyut karena bangunan kuno dan bersejarahnya, arsitekturnya yang indah, dan yang paling penting tempat ini memberikan halaqah-halaqah pengajian istimewa serta pelaksanaan Tarawih Anda di belakang suara merdu akan menjadikan Anda untuk datang terus ke pangkuannya,” papar Abu Saleh berpromosi.

Tanggapan lain datang dari Abu Ahmad yang beritikaf dengan memboyong anak-anaknya. Menurut dia, Masjid Al-Omari merupakan salah satu masjid terindah di Gaza dengan program-programnya yang sangat menarik. “Ia menjadikan kita berkhayal kalau seandainya semua bulan itu Ramadhan,” tegas dia.

Pendapat Abu Ahmad itu diamini tetangganya, Abu Anas, yang juga menurutnya salah satu ciri khas Masjid Al-Omari itu karena ruang depannya yang luas. “Dari jantung (masjid) itu muncul kafilah-kafilah syuhada,” imbuhnya, sebagai isyarat fungsi Masjid Al-Omari yang kerap dijadikan lokasi pelepasan para syuhada sebelum mereka mendapatkan kecupan perpisahan menuju ke tempat peristirahan terakhir.

Masjid Al-Omari sendiri dinilai sebagai sekolahnya imam-imam yang punya suara indah serta dai-dai ternama seperti Wael Zard yang dikenal memiliki suara yang menyentuh kalbu jamaah shalat. Selain itu, dari Masjid Al-Omari juga meluncur suara-suara qari lainnya seperti Ahid Zeno dan Arif Isyi dimana lantunan Al-Qur’an keduanya kerap menghanyutkan jamaah ke lautan tangis.

Masjid Al-Omari merupakan masjid tertua di Gaza, luasnya 4.100 meter persegi, halamannya 1.190 meter persegi, dan ada 38 tiang penyangga yang indah. Masjid itu dinamai Al-Omari karena dikaitkan dengan nama Umar bin Khatab.

Masjid Umara ada sejak eranya para raja, menteri-menteri dan para reformis. Hal itu dibuktikan oleh tulisan-tulisan yang terukir pada pintu-pintu dan dinding-dindingnya. Pihak kesultanan terdahulu mulai membuat sebuah pintu dan menara masjid itu pada tahun 697 H/1281 M, kemudian pada era Ustmaniyyah diperluas. Pada Perang Dunia Pertama masjid tersebut mengalami rusak berat, dan baru pada tahun 1926 Dewan Islam Tertinggi merenovasi total masjid itu.(milyas/iol)


 

0 Komentar

Arsip