Minggu, 13/09/2009 13:58 WIB
KNRP – Abu Aiman, 52 tahun, pria Gaza itu bergegas membuka tokonya dan langsung menyetel radionya. Meluncurlah dari radio berita, “Yayasan Aqsa untuk Waqaf dan Pewarisan menemukan bahwa otoritas penjajah Israel tengah masygul menggali terowongan baru di bawah daerah Silwan yang mengarah ke sebelah utara Masjid Aqsa.”
Tak lama kemudian, meluncur berita berikutnya, “Dua remaja (Palestina) ditemukan telah tewas dan 3 lainnya terluka pada dini hari Sabtu ini akibat robohnya salah satu terowongan Refah (di Gaza) yang terbentang sepanajng garis perbatasan yang memisahkan antara wilayah Mesir dan Palestina.”
Kedua berita itu betul-betul terekam kuat di benak Abu Aiman. Usai semua berita disajikan, pria setengah baya itu langsung meluapkan rasa jengkel dan amarahnya. “Terhadap terowong-terowong Al-Quds dunia membisu. Terhadap terowongan-terowongan Gaza, dunia balik menentangnya. Mereka memerangi apa yang telah berjasa besar dalam meringankan rasa lapar kami. Mereka tidak terkejut dengan (terowongan) lainnya yang mengancam identitas dan tempat-tempat suci kami,” teriak Abu Aiman menumpahkan rasa kesalnya.
Ungkapan itu tidak hanya milik Aiman, tapi masih banyak Aiman-aiman lainnya yang kecewa terhadap sikap dunia yang berbeda terhadap dua terowongan yang berbeda, yang satu di Al-Quds dan yang lainnya di Gaza. Sementara yang di Al-Quds tujuannya untuk menghapus jejak-jejak Islam dan Arab serta mendongkel Masjid Al-Aqsa melalui berbagai penggalian Israel yang tanpa henti plus sikap membisu dunia internasional terhadapnya. Sebaliknya, teriakan, ancaman dan kutukan begitu sangat nyaring terdengar terhadap terowongan-terowongan Gaza yang dibuat untuk mengusir rasa lapar anak-anak Gaza. Parahnya lagi, roket-roket Israel tega-teganya terus membidik selang oksigen warga Gaza tersebut.
Sejak tahun 2007 sampai sekarang jumlah korban tewas kibat robohnya terowongan di Gaza sudah mencapai 120 orang. Demikian seperti data yang dihimpun LSM-LSM HAM Palestina seperti diberitakan islamonline, Sabtu (13/9).
Terkait jumlah terowongan Gaza sendiri diperkirakan ada 1.300 terowongan, sekitar 500 di antaranya berhasil dihancurkan kepolisian Mesir, dan 300 lainnya oleh militer Israel. Serangan terhadap selang-selang oksigen Gaza itu dilakukan sejak aneksasi penjajah Israel atas Gaza sampai 18 Januari 2009.
Lebih menyedihkan lagi, sejumlah saksi mata memberikan keterangan kepada islamonline, otoritas Mesir sejak beberapa hari lalu diketahui melakukan rangkaian peledakan terhadap terowongan-terowongan Gaza, dan dikatakan juga banyak korban tewas akibat peledakan itu.
Di lain pihak, dunia Arab dan internasional bersikap adem ayem terhadap terowongan-terowongan bawah tanah di Al-Quds, yang tujuannya untuk mendongkel Masjid Al-Aqsa dari posisinya sekarang. Berikut catatan dalam beberapa tahun ke belakang terkait penggalian terowongan oleh Israel: galian-galian baru terdekat dengan pelataran Buraq di Harrah Magharibah (Januari 2007), terowongan baru antara Silwan dan di bawah Masjid Al-Aqsa (Januari 2007), galian dan pendirian bangunan serta terowongan di bawah tanah selatan Al-Aqsa (November 2007), terowongan Buraq di barat baru (November 2007), terowongan Silwan/Lembah Helwah (awal 2008), longsor di pelataran Masjid Al-Aqsa (Pebruari 2008), galian-galian sampai ke wilayahMutahharh dan Pintu Silsilah (10 Maret 2008), rancangan untuk sinagog-sinagog Yahudi di wilayah Tembok Buraq (Agustus 2008), dan terowongan baru di sebelah kiri Masjid Ein Silwan (Pebruari 2009).
Demikianlah dua terowongan di dua kota berbeda di Palestina. Saat terowongan di Gaza ditemukan, maka dunia internasional nyaring berteriak. Sebaliknya, ketika terowongan baru mencuat di Al-Quds, dunia membisu seribu basa. Walhasil, ada dua nafaq (terowongan) di antara kenifakan (kemunafikan) dunia internasional.(milyas/iol)