Rabu, 16/09/2009 23:32 WIB
KNRP - Dengan berani Perdana Menteri Palestina, Ismail Haneyya, menekankan pada hari Selasa (15/9) bahwa tidak mengakui Israel sebagai penjahat nasional dan normalisasi hubungan dalam kejahatan yang terang-terangan dilakukan Israel adalah sebuah pengkhianatan terhadap Allah, Rasul Nya, dan warisan Bangsa Islam.
Selama pertemuannya dengan para ulama dan tokoh agama, Haneyya menjelaskan perlawanan terhadap pendudukan ISrael sebagai pilihan mutlak untuk membebaskan tanah Palestina, mengembalikan Yerusalem dan mempertahankan Masjid Aqsha ke tangan umat Islam.
Dia juga mengungkapkan penolakan terhadap persamaan baru bahwa beberapa orang mencoba untuk memaksakan sifat menyerah atas konflik dengan pendudukan Israel. Hal ini ditunjukkan memalui upaya untuk menanamkan konsep-konsep baru ke dalam pikiran orang-orang Palestina seperti pengakuan posisi Israel sebagai imbalan atas sebagian penghentian dan penyelesaian konflik.
Perdana menteri juga mengatakan bahwa sifat konflik dengan pendudukan Israel adalah tidak boleh menghapuskan tekad dalam memori orang Palestina dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang diizinkan untuk menyerahkan satu inci dari tanah Palestina karena ia adalah milik seluruh bangsa Islam.
Hal ini nampaknya tidak hanya perlu selalu diingat oleh Muslim Palestina, namun oleh Muslim seluruh dunia. Sehingga dengan demikian dukungan atas perlawanan rakyat Palestina melawan penjajah Israel harus senantiasa ditunjukkan. Buktikan pada dunia bahwa Al-Aqsa dan kota suci Yerusalem adalah tanah wakaf seluruh umat Islam. (mrz/pic)