Jumat, 10 Pebruari 2012

Ingin Beribadah di Masjidil Aqsa Malah Dapat Hinaan dan Ejekan

Senin, 14/09/2009 16:48 WIB

KNRP - Bagi penduduk Tepi Barat mungkin lebih mudah untuk melakukan perjalanan ke Mekah untuk melaksanakan Haji dan Umrah daripada untuk mengakses masjidil Aqsa di Yerusalem Timur.

Meskipun kedekatan, hambatan dari tentara Israel selalu merintangi. Israel berada di tempat penyeberangan untuk mencegah akses ke Al-Aqsa sepanjang jalan. Kiblat pertama dan tempat tersuci ketiga bagi umat Islam ini tak pernah lepas dari penjagaan polisi pendudukan. Penjagaan ini bahkan hingga ke pintu terakhir dari masjid, terutama memasukun pekan ketiga pada hri Jumat bulan Ramadhan.

Sulit Lakukan Perjalanan ke Al-Aqsa

Tidak mungkin untuk memasuki Masjid Al-Aqsa seperti biasa kecuali bagi perempuan dan orang tua. Kelompok usia produktif nagi laki-laki dilarang melakukan salat Jumat di wilayah sekitar Masjid, baik dari lingkungan warga sekitar maupun dari desa-desa lain. Setelah melewati perjalanan berat dan sulit di tengah teriknya musim panas, rasanya sangat kejam jika mereka tidak bisa mendapat akses untuk beribada di Masjidil Aqsa yang dicintai.

Seorang laki-laki berusia 67 tahun dari Qalqilia berkata, "Orang-orang Yahudi tidak memiliki belas kasihan pada siapa pun. Semua orang yang hendak beribadah telah dicegah mendekati gerbang Masjid Al Aqsa. Tidak ada bantuan bagi orang tua yang harus berjalan dengan jarak yang jauh. Saya sendiri telah berjalan lebih dari satu kilometer agar bisa masuk. Saya kelelahan tapi tetap berusaha untuk membantu orang tua lainnya yang berjalan menuju masjid bersama saya. "

Perjalanan ini sangat sulit, namun tentara Israel malah dengan sengaja menghalang-halangi setiap pengunjung sehingga ia tidak akan kembali lagi ke Yerusalem atau mengunjungi Masjid Al Aqsa.

Haji Ahmed Zeid, seorang pria 70 tahun menuturkan "Di wajah kami telah nampak kelelahan dan tubuh kita lemah. Namun para prajurit itu malah berteriak dalam bahasa Ibrani, 'mengapa datang ke Yerusalem!'. Segera saya tegaskan hak-hak saya untuk dapat beribadah di Masjidil Aqsa. Namun dalam waktu bersamaan ada dua orang pasukan yang ditempatkan di sepanjang jalan menuju gerbang Masjid Al Aqsa yang saya saksikan dengan mata saya sendiri telah menginterogasi dan menangkap para pemuda dari Tepi Barat yang mereka curigai. Sedangkan para pemuda yang berasal dari Jerusalem dihentikan oleh tentara Israel guna memastikan dimana tempat tinggal mereka. Hal ini sungguh tragis, kita melihat orang-orang Yahudi datang dari seluruh dunia untuk mengendalikan siapa yang boleh masuk dan beribadah ke Masjid Al Aqsa. "

Dibawah 50 Tahun

Seluruh orang di dunia ini ingin tetap berada di puncak masa muda mereka dan berada dalam kondisi fisik yang prima. Tapi ini tidak berlaku untuk Palestina yang ingin cepat tua agar dapat masuk ke Masjid Al Aqsa. Seorang pria mengatakan, "tentara Israel mencegat saya karena usia saya 38 tahun kemudian berkata, 'Jika Anda lebih dari 50 tahun, maka Anda memiliki hak untuk masuk." Saya tidak setuju dengan kebijakan tersebut namun tiba-tiba sekelompok prajurit mendatangi saya. Mereka memaksa saya untuk masuk lewat pintu yang lain. Namun di depan pintu yang lain juga ada sekelompok prajurit yang memerintahkan hal sama. Saya kemudian mengatakan pada mereka bahwa saya sudah beberapa tahun tidak pernah ke Jerusalem. Namun seorang prajurit malah menjawab, 'Kami ini adalah penjaga keamanan, bukan seorang pemberi bantuan. Suruh Abu Mazen kirim utusan ke Netanyahu untuk mengurangi batas usia, maka Anda berhak untuk masuk. Ini adalah tanah Israel. Kau mengerti?'"

Laki-laki di bawah 50 dilarang shalat di masjid Al Aqsa, seperti juga perempuan yang berusia kurang dari 45 tahun.

Peningkatan Rasisme

Sheikh Ikrima Sabri, ketua Mahkamah Agung Islam dan Imam Masjid Al Aqsa, mengatakan bahwa dengan menentukan usia memasuki Masjid, otoritas pendudukan telah mencapai ketinggian baru dalam rasisme dengan mencoba menguras agama dari kaum muda. Artinya hanya kaum tua saja yang boleh beribadah, sedangkan kaum muda dilarang.

Hal ini bertentangan dengan semua hukum dan peraturan yang berlaku secara internasional, dan saya bingung oleh keheningan badan-badan HAM dan negara-negara Barat yang berbicara pro-demokrasi siang dan malam, dan yang menyuarakan keprihatinan atas masalah-masalah seperti patung Buddha di Afghanistan. Namun untuk masalah Yerusalem di Palestina yang menderita rasisme tingkat tinggi atas pelarangan memasuki tempat ibadah di siang bolong, tidak pernah ada yang memprotes. "

Meskipun banyak yang terkapar akibat granat, asap, gas, dan peluru karet digunakan di seluruh Tepi Barat dan Yerusalem untuk mencegah jamaah mencapai Masjid Al-Aqsa pada hari Jumat, namun pantang bagi kami untuk mundur. Kami akan terus berusaha untuk dapat beribadah di dalam Masjid Al-Aqsa. (mirzah/pnn)

0 Komentar

Arsip