Jumat, 27/01/2012 23:25 WIB
Pendiri organisasi kemanusiaan Roots of Peace Heidi Kühn mendesak rezim Israel untuk membersihkan ranjau-ranjau darat yang disebarnya di wilayah Palestina.
Kühn menyatakan sudah menyampaikan desakan itu saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (23/1). Pada Netanyahu, Kühn mengatakan "Tanah Suci tidak 'suci' jika ranjau darat ada di mana-mana."
Menurut Kühn, Netanyahu berjanji akan membersihkan ranjau-ranjau itu, terutama yang disebar militer Israel di wilayah Tepi Barat, dengan syarat organisasi yang dipimpin Kühn juga ikut membantu membersihkan ranjau-ranjau darat yang berada di wilayah Israel.
Roots of Peace menyatakan, dipekirakan ada 1,5 juta ranjau darat tersebar di sejumlah tempat di Tepi Barat dan Lembah Sungai Yordan. Keberadaan ranjau-ranjau tersebut menyebabkan tanah-tanah yang subur di kawasan itu tidak bisa digunakan oleh penduduk karena khawatir terkena ranjau darat.
Sejumlah area di perbatasan Israel-Yordania dan Lembah Sungai Yordan merupakan kawasan yang paling banyak ranjau daratnya. Tempat lainnya yang juga sangat rawan akan ancaman ranjau darat adalah beberapa kawasan di Dataran Tinggi Golan dan wilayah utara Tepi Barat.
Ranjau-ranjau darat yang dipasang untuk keperluan militer Israel, sebenarnya tidak dibutuhkan lagi. Tapi rezim Israel tidak membersihkannya kembali, sehingga bisa membahayakan manusia terutama warga Palestina.
Bom Fosfor
Sementara itu, surat kabar Israel berbahasa Inggris Jerusalem Post dalam situsnya melaporkan bahwa militer Israel akan menggunakan bom fosfor putih jika akan menyerang Jalur Gaza kembali, meskipun dunia internasional sudah melarang penggunaan bom yang mengandung zat kimia fosfor putih.
Menurut Jerusalem Post, seorang aktivis hak asasi manusia Israel yang berprofesi sebagai pengacara telah melayangkan permohonan pada pengadilan tinggi Israel. Aktivis kemanusiaan itu meminta pihak pengadilan mengeluarkan larangan penggunaan bom yang mengandung fosfor putih oleh militer Israel dalam aksi-aksi serangan mereka, terutama serangan ke front selatan Israel.
Namun, militer Israel menolak tuntutan itu dan mengatakan akan "membatasi" penggunaan bom-bom yang mengandung fosfor putih dalam operasi-operasi militer mereka.
"Saya sudah memerintahkan untuk membatasi penggunaan bom jenis itu seminimal mungkin, jika Israel akan menyerang Jalur Gaza lagi di masa datang," kata Kepala Staf Militer Israel Yair Naveh.
Belakangan ini santer terdengar kabar bahwa Israel sedang mempersiapkan sebuah rencana serangan kembali ke Jalur Gaza, yang lebih dasyat dari operasi militer yang pernah mereka lakukan ke Gaza pada 2008-2009 lalu dengan sandi operasi "Cast Lead". Agresi brutal Israel selama 34 hari ke Jalur Gaza itu menyebabkan ribuan warga Gaza gugur syahid dan ribuan lainnya luka-luka, serta hancurnya semua infrastruktur termasuk rumah-rumah penduduk, rumah sakit, sekolah bahkan sebuah kantor PBB. (aisyah/mn/pic)