Jumat, 10 Pebruari 2012

Israel Tolak Syarat Abbas, Negoisasi Makin Tak Jelas

Kamis, 29/07/2010 05:47 WIB

KNRP - Silvan Shalom, Wakil Perdana Menteri Israel, mengumumkan bahwa pihaknya mustahil untuk menerima syarat Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk bergerak dari negosiasi tidak langsung dengan Israel menuju negosiasi langsung.

Shalom mengatakan Palestina memberikan tiga syarat yang mustahil untuk kembali ke negosiasi langsung, dimana syarat yang pertama adalah agar negoisasi itu melanjutkan negoisasi yang sempat terhenti di tahun 2008 dengan Pemerintah mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert.

Dua syarat lainnya, lanjut Shalom, permintaan Palestina untuk penarikan penuh Israel dari wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1967 dan membekukan kegiatan pembangunan permukiman.

Sementara Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman mengatakan bahwa semuanya dapat dirundingkan dan bahwa setiap pihak berhak untuk menaruh apapun yang dia inginkan di meja perundingan, tapi ia menganggap bahwa tidak mungkin untuk menerima agenda Palestina itu terutama terkait perbatasan tahun 19 67 atau masalah permukiman atau pengungsi.

Abbas mengatakan pada hari Rabu kemarin di Yordania bahwa Otoritas siap untuk duduk langsung dengan Israel, tetapi hal itu harus berdasarkan pada rujukan yang jelas dan spesifik yang dasarnya adalah masalah perbatasan tahun 1967 dan menghentikan pembangunan permukiman.

Demikian juga delapan faksi Palestina dalam sebuah pernyataannya yang dikeluarkan di Damaskus telah meminta- Otoritas Nasional Palestina untuk menolak untuk melanjutkan perundingan langsung dengan Israel.

Faksi-faksi itu memperingatkan Otoritas bahwa pembicaraan langsung dengan Israel itu akan terus merugikan kepentingan Palestina sementara kebijakan permusuhan Israel masih berlanjut, demikian juga pembangunan pemukiman dan pengepungan atas Jalur Gaza.

Di sisi lain, Kamis hari ini dijadwalkan akan diselenggarakan rapat luar biasa Komite Inisiatif Perdamaian Arab pada tingkat menteri luar negeri dengan partisipasi dari Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa untuk membahas hasil-hasil negosiasi tidak langsung antara Israel dan Palestina dan kemungkinan pindah ke negosiasi langsung.

Dikutip oleh kantor berita Reuters dari seorang pejabat Palestina bahwa Abbas akan mengatakan dalam pertemuan Komite itu bahwa negosiasi tidak langsung yang dimulai pada bulan Mei lalu di bawah sponsor Amerika itu belum mencapai hasil apapun yang dapat dijadikan alasan untuk mendorong kembalinya ke negosiasi langsung.

"Kami akan memberitahu Arab bahwa Amerika tidak memegang sesuatu yang baru dengan mereka, dan kami mungkin akan terus pada dua bulan sisa itu pada negosiasi tidak langsung dan kemudian melihat apa yang terjadi," ujar pejabat itu seperti dikutip aljazeera.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Meir, Ahmed Aboul Gheit mengatakan bahwa pihak Palestina menerima jaminan AS terkait masa depan proses perdamaian Palestina dengan Israel.

Aboul Gheit mengatakan dalam pernyataan persnya bahwa ada sikap dan surat dari Amerika yang diberikan kepada pihak Palestina selama beberapa hari terakhir, dan itu berkaitan dengan kerangka umum untuk negosiasi dan unsur-unsur yang mengatur masa depan kompromi.

Tapi Gheit mengatakan, "Kami menunggu pada rapat besok (Kamis hari ini) di komite inisiatif perdamaian Arab untuk melihat dan mendengarkan pembicaraan dengan Presiden Abu Mazen dan jaminan apa yang dia diterima, dan kemudian kami membayangkan bahwa komite tindak lanjut akan memberikan rekomendasi kepada Presiden Palestina."

Dalam konteks ini, sebuah laporan mengungkapkan bahwa Suriah mengatakan pada Rabu kemarin bahwa lima negara Arab akan menolak pertemuan komite inisiatif perdamaian Arab Kamis hari ini yang akan mengizinkan Palestina untuk pindah ke pembicaraan langsung dengan Israel.

Koran Al-Watan Suriah menegaskan bahwa Suriah, Lebanon, Aljazair, Qatar dan Sudan akan menolak untuk mendukung suatu resolusi yang akan mengizinkan Palestina ke negosiasi langsung.(milyas/aljzr)
 

0 Komentar

Arsip