Senin, 06 Pebruari 2012

Hamas dan Salafi Jihadi

Menilik Latar Belakang Konflik Hamas dan Salafi Jihadi

Rabu, 19/08/2009 13:39 WIB

KNRP - Sebelum Jum’at (14/8) lalu, sedikit orang yang mengenal Abdul Latif Musa (50 tahun). Dialah pria yang mendeklarasikan Negara Islam (Imarah Islamiyah) di Baitulmaqdis Palestina dengan dimulai dari Kota Refah di selatan Jalur Ghaza.

Pengikutnya tak lebih dari 30 orang ditambah beberapa warga setempat. Kini Musa banyak dikenal orang, terlebih tak lama setelah ia tewas dalam baku tembak dengan pemerintah Hamas. Tercatat juga 24 lainnya tewas dan sekitar 150 terluka.

Musa dan pengikutnya terlibat baku tembak dengan kepolisian pemerintahan Hamas pada Jum’at pekan lalu tak lama setelah dideklarasikannya Negara Islam. Mereka juga menyerukan jihad melawan pemerintahan persatuan nasional di Ghaza kerena dianggap tidak menerapkan Syariat Islam.

Sejumlah sumber menyebutkan, Musa tidak punya hubungan lebih jauh dengan faksi-faksi apapun di Palestina. Ia hanya dikenal sebagai orang yang ketat dalam beragama. Namun setelah Hamas masuk ke ranah politik dengan menjadi peserta pemilu legislatif pada awal 2006 lalu, Musa mulai membuat kutub tersendiri bersama beberapa anak muda dimana waktu itu ia merupakan khatib di Masjid Ibnu Taimiyyah di Refah.

Setelah pertikaian militer di Ghaza pada musim panas 2007, pengikut Musa mulai bertambah terlebih lagi masjid tempat dimana ia biasa berkhutbah diimami oleh pengikut Fatah yang juga enggan untuk shalat di masjid-masjid yang dikuasai Hamas. Seiring dengan waktu, Musa mulai membentuk Negara Islam.

Sejumlah analis menilai, kelompok Musa merupakan kelompok tersendiri yang ada di Palestina dan tidak punya hubungan dengan aliran Salafi. Hal itu didasarkan atas jejak hidup Musa sendiri sebelum kejadian baku tembak itu.

Menurut Dr Khalid Khalidi, pakar sejarah dari Universitas Islam Ghaza, Musa tak pernah tercatat sebagai sosok yang pernah melakukan aktifitas perlawanan apapun dalam melawan penjajah Israel. Ia juga tidak pernah terceritakan ditangkap dalam peristiwa Intifadah pertama. Yang lebih menarik lagi, Musa justru pernah tercatat sebagai pegawai di Otoritas Palestina yang beraliran sekular.

“Musa hidup di bawah penjajahan (Israel) sejak lama dalam hidupnya, yang mungkin dapat dikatakan bahwa ia sangat bepuas diri. Penjajah hengkang dari Ghaza dan ia tak pernah dibekuk atau berbicara tentang jihad atau menganjurkannya dan ia tak melakukan apapun untuk melawan penjajah. Ia juga hidup di era otoritas sebelumnya yang pernuh dengan korupsi dan tak pernah terdengar ia melakukan kritik terhadap otoritas itu atau berbicara terkait korupsi, bahkan sebelum otoritas keluar dari Ghaza, ia sempat mendapatkan upah dari mereka sebelum akhirnya meninggalkan pekerjaannya untuk menjadi khatib dan berada di rumahnya,” papar Khalidi kepada situs Qudspress.

Sementara menurut Dr. Sami Abu Zuhri, Jubir Hamas, kelompok takfir (mengkafirkan) yang muncul di Refah itu juga disusupi oleh kepentingan Zionis Israel dalam barisannya. “Kami mempunyai informasi dan bukti atas adanya infiltrasi agen keamanan Zionis dalam barisan kelompok itu,” ujarnya. Lebih jauh, Zuhri menambahkan, pihaknya tidak menuduh semua pemuda pengikut Salafi Jihady itu adalah agen Zionis, tapi ia mengatakan infiltrasi Zionis telah menjadikan para pemuda itu melakukan tindakan yang menguntungkan Zionis Israel.

Dalam siaran televise Al Quds Channel, Zuhri juga menegaskan bahwa pemerintahan yang didirikan Hamas, dan dituding sebagai pemerintahan kafir oleh Musa dan kelompoknya itu, “mengeluarkan 5000 penghafal Al Quran setiap tahunnya dan membuka kesempatan untuk seluruh warga Gaza untuk terlibat dalam aksi menentang penjajah Zionis Israel saja, bukan terhadap sesama warga Gaza.” (milyas/mln/qdsprs/istme)

 

0 Komentar

Arsip