Kamis, 31/12/2009 07:25 WIB
KNRP - Seorang bayi Palestina berusia empat bulan di Jalur Gaza mengalami kondisi yang sangat kritis dan terancam kematian jika tidak segera mendapatkan susu khusus. Demikian penuturan Atiya Al-Basyuni, seorang koordinator komite angkatan Islam dan nasional.
Basyuni mengatakan dalam siaran pers pada hari Rabu (30/12) bahwa bayi yang bernama Yehya Abu Shabab itu peka terhadap semua jenis susu bayi kecuali Galactomin-19. Dia menambahkan bahwa rumah sakit Yafa telah memberikan orangtuanya empat paket susu tersebut namun kini hanya tinggal paket terkahir yang belum dikonsumsi.
Melihat situasi demikian, Basyuni meminta organisasi-organisasi internasional dan kelompok hak asasi manusia untuk secara serius membantu anak-anak Gaza yang sangat menderita akibat dari pengepungan Israel yang menindas.
Mohammed Abu Shabab, paman sang bayi, telah memohon kepada pelayanan kesehatan agar semaksimal mungkin bisa mendapatkan dan memberikan susu yang diperlukan oleh bayi itu.
Dia menjelaskan bahwa si bayi menderita diare konstan sejak ia lahir kemudian dibawa ke rumah sakit anak Nasr di kota Gaza sebelum dipindahkan ke rumah sakit Yafa di Palestina yang diduduki sejak tahun 1948. Di rumah sakit tersebut sang bayi diberi Galactomin-19 setelah menjalani sekian tes yang membuktikan bahwa ia sensitif terhadap semua jenis susu bayi kecuali susu yang satu ini.
Muhammad mengatakan bahwa kehidupan bayi kini sedang dipertaruhkan jika paket terkahir dari keempat paket yang diberikan habis dikonsumsi dan tidak mendapatkan paket baru. Dia juga menambahkan bahwa pihak keluarga sudah mencari susu jenis Galactomin-19 ke seluruh Jalur Gaza dan tidak menemukannya.
Di lain pihak, pelayanan kesehatan telah memperingatkan bencana kesehatan pasca habisnya stok 141 jenis obat-obatan di toko-toko. Hingga kini tak ada yang dapat mereka lakukan selain memohon kepada organisasi hak asasi manusia dan Palang Merah internasional untuk segera turun tangan dan menekan Israel membuka penyeberangan sebelum obat-obatan yang diperlukan benar-benar musnah dari Gaza. (mirzah/pic)