Rabu, 28/10/2009 18:10 WIB
KNRP - Kondisi kehidupan di Tepi Barat dan Gaza yang sangat tidak bersahabat, akhirnya mendorong sejumlah keluarga untuk meninggalkan tanah dan rumah mereka, sembari membawa anak-anak, yang mengakibatkan kualitas dan situasi hidup si kecil memprihatinkan. Demikian sebuah LSM Inggris, Save The Children, mengawali laporan peringatannya pada Selasa (28/10), seperti dilansir maannews.
Laporan itu memperingatkan ihwal bahaya yang akan menerpa anak-anak saat mereka diusir dari rumah mereka, akibat terbiasanya mereka melihat bagaimana rumah-rumah mereka diluluhlantakan.
Laporan itu menemukan bahwa keluarga-keluarga yang berada di area yang sebagian besar termasuk pedesaan di Tepi Barat dan daerah perbatasan Gaza itu, terlihat menderita akibat sehari-harinya mereka kekurangan makanan dan air, tingginya angka pengangguran, ketidakamanan secara finansial, pemisahan secara paksa dengan anggota keluarga karena mereka harus bekerja dan tinggal di kota-kota di mana mereka di sana bisa mendapatkan pekerjaan, anak-anak itu tidak dapat pergi ke sekolah karena perjalanan yang sulit atau keharusan untuk bekerja di lahan pertanian atau dengan kawanan hewan ternak karena kepala rumah tangga sudah tiada.
"Kami selalu tahu bahwa hidup di wilayah ini selalu sulit, tetapi penelitian baru ini telah menunjukkan betapa hal-hal itu sangat buruk. Banyak keluarga yang kami ajak bicara berada di akhir titik nadir,” ujar Direktur untuk Save The Children Inggris, Salam Kanaan.
Kanaan menambahkan, "Tanpa adanya masa depan yang pasti, kehidupan anak-anak itu suram. Secara konstan mereka takut akan pergolakan, ditambah lagi dengan perjuangan harian untuk kebutuhan dasar, yang menyebabkan anak-anak itu tertekan dan trauma. "
Menurut laporan itu, hampir setengah dari warga Palestina yang tinggal di daerah berisiko tinggi telah dipaksa hengkang dari rumah mereka sejak awal Intifadah kedua pada tahun 2000.
"Survei ini menyoroti pola keekstriman atas pengabaian dan isolasi terhadap masyarakat Palestina," ujar sebuah pernyataan dari kelompok itu.
Adapun hal-hal yang mengkhawatirkan itu antara lain, bahwa hanya 37 persen dari orang yang tinggal di daerah berisiko tinggi yang memiliki cukup untuk makan, dibandingkan 70 persen lainnya.
Di daerah yang disurvei di Tepi Barat, 92 persen keluarga tidak memiliki akses terhadap kesehatan, dibandingkan dengan 34 persen di seluruh wilayah yang diduduki.
Demikian juga, hanya 2 persen dari orang-orang di daerah-daerah yang disurvei di Tepi Barat yang memiliki akses ke sanitasi, dibandingkan dengan 61 persen di luar daerah itu.
Sementara itu, di Gaza, hanya 9 persen dari keluarga yang tinggal di wilayah penyangga Gaza yang mengatakan bahwa mereka merasa aman dan nyaman, dibandingkan dengan 55 persen di luar daerah itu.
Dilaporkan juga bahwa satu-satunya cara untuk memastikan bahwa bantuan itu tepat sampai ke keluarga di perbatasan dan di daerah-daerah pertanian, kata laporan itu, adalah Israel harus menghentikan tindakan-tindakan yang mengakibatkan mereka hengkang, juga termasuk pembongkaran rumah-rumah warga Palestina, dan dengan jelas menetapkan kebijakan untuk zona penyangga untuk Gaza yang sejalan dengan kewajiban hukum internasional untuk melindungi warga sipil yang berada di bawah penjajahan.(milyas/maannews)