Jumat, 10 Pebruari 2012

Anak-anak Gaza

Mereka Terpaksa Berjualan di Bawah Panas Matahari Pantai

Senin, 20/07/2009 10:32 WIB

KNRP - Anak-anak Palestina yang tercekik kebutuhan ekonomi melewati musim panas dengan membantu orang tua mereka mencari nafkah. Kehidupan yang semakin sulit akibat blokade yang dilakukan Israel atas Gaza selama hampir 3 tahun, membuat kondisi keluarga Palestina semakin terancam bencana kemanusiaan.

Kini, anak-anak Palestina menyebar di jalan-jalan dan di tepi pantai Gaza, disengat matahari musim panas yang begitu terik. Mereka menjajakan sejumlah barang dagangan untuk mendapat keuntungan yang sangat kecil. Ada banyak kisah duka dibalik langkah-langkah mereka menjajakan barang dagangannya. Banyak orang yang tidak mengira bila mereka ternyata menjadi tulang punggung keluarga, lantaran sudah tidak memiliki ayah lagi.

”Aku Ingin Kuliah”. Ini perkataan Fade Khaziri, salah seorang anak berusia sepuluh tahun. Di tepi pantai Gaza ia menjajakan barang dagangan setiap hari, sejak pagi sampai malam. Tubuhnya yang kurus, tetap harus melangkah hingga beberapa kilometer guna menjajakan barang dagangannya untuk para pengunjung pantai. Padahal, hari-hari ini, di musim panas, cuaca sangat menyengat dan sangat berat bagi siapapun untuk berjalan di tepi pantai.

Fade, anak kelima dari sebuah keluarga yang memiliki sepuluh orang anak. Ia menyampaikan keinginannya untuk bisa melanjutkan belajar hinga ke perguruan tinggi. ”Aku ingin memberikan sesuatu yang lebih baik untuk keluargaku,” katanya lagi. Kepada wartawan Palestine Information Center, ia mengatakan, ”Aku bekerja di sini setelah berakhirnya tahun ajaran yang panjang . Karena biaya belajar sangat berat bag keluargaku. Aku tak mempunyai biaya kecuali hasil dari jualan di pantai ini.”

Ada pula seorang anak usia 12 tahun. Abu Nashir namanya. Ia mendorong sebuah gerobak melintasi pasir pantai yang semakin membuat rodanya sulit bergerak. Saat ditemui wartawan Palestine Information Center, ia mengatakan, “Aku berada di sini untuk mengisi liburan musim panas. Kondisi ekonomi sangat susah di sini. Ayahku sudah wafat. Tak ada orang yang membiayai kebutuhan keluarga, kecuali aku sendiri dengan menjual apa yang ada di gerobak ini. Kira-kira aku mendapat 30 sheikel setiap harinya.” Ia lalu menceritakan bahwa ibunya selalu menggunakan uang yang diperolehnya setiap hari, sepenuhnya untuk membeli makanan. “Ibu melarang kami meminta-minta. Aku mampu untuk bekerja agar kami tidak meminta-minta,” ujarnya. Ia mengatakan lagi tentang perasaannya saat bekerja mendorong gerobak menjajakan apa yang ia bawa. ”Orang terkadang melihat padaku dengan rasa kasihan, lalu ia membeli sesuatu dan merasa bahwa ia telah berlaku baik kepadaku. Tapi menurutku, aku bekerja dengan pekerjaan yang mulia untuk mendapatkan sesuap nasi.” (mlna/pic)

0 Komentar

Arsip