Rabu, 10/03/2010 15:41 WIB
KNRP – Kios-kios di pasar emas di Gaza Lama yang bersejarah itu semakin semarak dengan perhiasan emas yang berkilauan usai diselundupkan ke Gaza meskipun blokade Israel masih berlangsung. Perdagangan emas itu masih luar biasa seiring dengan maraknya pesta perkawinan.
Para pelanggan itu tampak hilir-mudik di jalan-jalan sempit pasar emas yang didirikan sejak lebih dari 600 tahun yang lalu, di pasar yang dibalut kubah batu dengan tiang-tiang batu yang melekat dengan dinding Masjid Umari, yakni salah satu masjid tertua di Palestina.
Di tokonya yang sibuk dengan pelanggan, tampak Iyyad Basl (35 tahun), yang mewarisi profesi pedagang emas dari ayahnya itu. Iyad mengatakan, "Perdagangan kami tidak terpengaruh oleh blokade Israel, dan bahkan berkembang sejak saat itu." Jalur Gaza sendiri diblokade sejak Hamas merebut kekuasaan pada pertengahan Juni 2007.
Lebih jauh Iyad menambahkan, "Penyelundupan itu menyegarkan perdagangan kami, pekerjaan kami tidak terhenti lantaran blockade. Emas itu sampai ke kami dengan penyelundupan dan (Hamas) sangat menganjurkan pernikahan, menyelenggarakan pernikahan massal dan membantu kaum muda dan ini adalah keuntungan bagi kami."
Hamas sendiri kerap mensponsori pernikahan ribuan anak muda dalam pesta pernikahan massal di Jalur Gaza yang menyebabkan tingginya tingkat pernikahan. Hassan Juju, Hakim Ketua Syariat di Jalur Gaza, mengatakan, "Tahun 2009 tampaknya merupakan tingkat tertinggi pernikahan selama sepuluh tahun.”
Sementara Abdul Aziz, pedagang emas lainnya mengatakan, "Sejak sector-sektor yang lainnya berhenti dan blockade itu menghancurkannya, orang-orang yang ingin membeli emas semakin bertambah." Lalu ia melanjutkan, "Kami terima emas itu melalui terowongan penyelundupan via orang-orang yang berpergian yang melalui persimpangan Erez."
Untuk diketahui, ada ratusan terowongan di perbatasan dengan Mesir di Jalur Gaza selatan, yang digunakan oleh warga Palestina untuk menyelundupkan barang-barang dan bahan bakar, dan kadang-kadang bahan semen dan senjata.
Abdul Aziz juga menjelaskan, "Yang punya uang maka ia membeli emas untuk menabung uangnya karena dia tidak bisa membangun (rumah) dan tidak dapat memasukkan uangnya ke dalam bank, yang menderita krisis.”
Mohamed Younis (36 tahun), pedagang emas lainnya mengatakan, "Pembelian emas meningkat sebesar 20% dalam tiga tahun terakhir, dibandingkan dengan sebelumnya dalam dekade terakhir."
Namun penyelundupan emas itu sangat memberatkan pedagang emas. "Kami harus mengandalkan penyelundupan untuk melanjutkan pekerjaan kami, yang kami warisi dalam beberapa dasawarsa. Kami membayar ratusan dolar untuk menyelundupkan barang-barang kami melalui terowongan atau oleh pelancong yang melintasi Erez," ujar pedagang emas yang tak mau disebut namanya itu.
Seorang penyelundup di terowongan di wilayah Rafah yang berbatasan dengan Mesir mengungkapkan, barang-barang yang dibawa di dalam terowongan yang nilainya 700 dolar, itu bisa seharga 1.000 dollar atau lebih sesuai banyaknya barang dan kondisi penyelundupannya.(milyas/pt)