Jumat, 10 Pebruari 2012

Ekonomi Mencekik

Ratusan Pemuda Gaza Menjadi Pengangkut Gerobak Sampah

Rabu, 29/07/2009 21:16 WIB

KNRP -  Apa yang akan Anda lakukan dalam kondisi nyaris tak ada sarana untuk transportasi dan keterdesakan menyambung hidup? Barangkali apa yang terjadi di Gaza dalam kondisi seperti itu bisa menjadi renungan kita bersama untuk menambah kesyukuran.

Kini, alat transportasi gerobak, menjadi alternatif paling aman bagi ribuan warga Palestina yang tercekik kesulitan ekonomi. Gerobak yang ditarik oleh satu atau dua ekor keledai kini mulai menjadi trend yang laris dijumpai di banyak jalan-jalan Palestina, khususnya Jalur Gaza. Inilah satu-satunya cara agar tetap bisa menjalani dinamika hidup, setelah lebih dari 70% jalur distribusi untuk bahan makanan, minuman, dan ragam kebutuhan hidup lainnya, diamputasi oleh Zionis Israel.

Ibrahim Badawe (24), adalah salah seorang yang menggunakan gerobak keledai itu. Ia pemuda yang paska ekspansi militer Israel atas Gaza terpaksa menjadi pemulung sampah dari pasar Syaikh Ridhwan. Kepada France Press ia mengatakan, ”Andai tak ada keledai ini, sulit sekali bagiku untuk bisa bekerja dan mendapatkan uang di Gaza.” Ia menambahkan lagi bahwa dirinya juga mengais sisa-sisa makanan yang biasanya sudah dibuang oleh warga lainnya di atas tanah dan dikerumuni lalat. ”Melalui keledai ini, Allah swt memberikan makanan untuk lima anggota keluarga saya sejak tiga bulan lalu, ketika aku mulai menjalani pekerjaan ini.”

Menurut Ir Abdurrahim Abul Qumaiz, Kepala Pengelolaan Kesehatan dan Lingkungan di Gaza, ”Dahulu pekerjaan mengangkut sampah bisa dilakukan dengan alat khusus dan mobil sampah yang jumlahnya sekitar 60 buah di Gaza. Tapi sekarang, blokade yang dilakukan Israel mengakibatkan kami tidak bisa menjalani mesin mobil kecuali hanya minimal untuk 20 mobil saja.”

Israel menerapkan blokade total atas Gaza sejak Hamas yang memenangkan pemilu parlemen secara demokratis, akhirnya menguasai kota itu pada Juni 2007. Abul Qumaiz lalu melanjutkan bahwa kondisi kota Gaza saat ini memang kesulitan mengangkut sampah. ”Kami telah mempekerjakan 300 orang pekerja dengan gerobak keledainya dengan gaji 300 dolar per tiga bulan,” jelasnya. Pemerintah kota Gaza dikatakan telah melakukan kontrak kerja dengan para pengangkut sampah dengan gerobak itu, sepanjang 3 bulan. Pekerjaan itu mungkin bisa diperpanjang mengingat masih banyak pengangguran di kota Gaza, dan pemilik gerobak yang juga ingin mencari nafkah melalui apa yang mereka miliki. Ibrahim Badawe si pemilik gerobak mengatakan dari uang 300 dollar yang diberikan oleh pemerintah kota, ia salurkan 100 dolarnya untuk biaya perawatan keledainya. Sisanya, 200 dolar untuk keluarganya. ”Dua ratus dolar itu, bagi kami sudah mendapatkan yang paling baik dalam situasi seperti ini,” katanya.

Abu Nahel (28), awalnya sebelum perang Gaza, adalah seorang penjahit. Tapi dengan kondisi seperti sekarang, ia rela menjual mas kawin milik istrinya untuk mendapatkan seekor keledai seharga 500 dinar (700 dolar). Keledai itulah yang digunakan untuk mencari nafkah dengan mengajukan permohonan kerja pada pemerintah kota Gaza. Nahel yang memiliki tiga orang anak, mengaku sulit sekali sebenarnya menjalani profesi barunya sebagai pemulung sampah karena sudah merasakan sakit pada punggungnya. ”Kami sering membawa benda berat peninggalan perang untuk dimasukkan ke dalam gerobak sampah,” ujarnya.

Jalur Gaza setiap harinya mengeluarkan sampah seberat 600 ton. Sementara gerobak-gerobak yang dipekerjakan itu bisa mengangkut lebih dari 400 ton setiap harinya. Sampah itu dikumpulkan di tempat tertentu sebelum kemudian dilakukan proses pemusnahan bila bisa dimusnahkan. (mln/psnews)
 

0 Komentar

Arsip