Selasa, 29/12/2009 23:15 WIB
KNRP - Ra'fat Hamduna, direktur Pusat Studi Narapidana, telah meminta seluruh pihak yang berkepentingan untuk menyelidiki kegagalan operasi yang dilakukakn dokter Israel terhadap seorang tawanan Palestin di rumah sakit penjara Ramle .
Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (28/12) bahwa lembaga-lembaga internasional harus turun tangan untuk menyelamatkan nyawa tahanan yang sakit dan juga mengakhiri penyiksaan yang mereka alami dalam penjara Israel.
Hamduna mendesak kelompok internasional untuk lebih mendukung permasalahan yang menjadi penyebab dari penderitaan seluruh tahanan Palestina serta menekan Israel agar dapat memberikan perawatan yang tepat kepada tahanan yang sakit dengan sebenar-benarnya. Hal ini diharapkan dapat menghentikan segala pelanggaran kemanusiaan yang terjadi dalam penjara Israel.
Lebih lanjut sang direktur mengatakan bahwa para tahanan di rumah sakit penjara Ramle mengiriminya sebuah pesan yang mengatakan bahwa pihak administrasi rumah sakit Ramle memaksa pasien, orang cacat dan pasien yang berusia lanjut untuk keluar dari kamar mereka pada pukul 1 dini hari. Perlakuan ini sudah terjadi selama dua kali sejak pekan lalu tanpa memperhatikan kondisi dari para tahanan tersebut.
Hal ini digambarkan Hamduna sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan sangat provokatif. Semua perbuatan ini tidak ada hubungannya dengan masalah keamanan di dalam penjara melainkan hanya dibuat-buat untuk menghukum dan menyiksa para tahanan.
Dalam surat tersebut juga dinyatakan bahwa banyak tahanan yang ditolak perawatan medisnya. Mereka tidak mendapat perawatan medis secara memadai bahkan yang menderita penyakit kronis pun tidak bisa segera mendapat pengobatan yang dibutuhkan.
Hal ini bukan yang pertama terekspos ke media dan tersebar ke seluruh dunia, namun sayangnya belum ada pihak internasional yang dapat dengan tegas memberi sangsi bahkan hukuman kepada Israel atas aksi tidak manusiawi yang kerap terjadi di dalam penjara. (mirzah/vop)