Selasa, 08/09/2009 10:59 WIB
KNRP - Kabar pilu sesalu datang dari balik jeruji panjara Israel. Bukan hanya penyiksaan dan pelecehan, para tawanan Palestina itu seolah ingin dibiarkan mati secara perlahan-lahan di dalam penjara Israel yang sempit dan sesak.
Selama ini otoritas penjara Israel di Negev menolak mengizinkan perawatan kepada seorang tahanan Palestina yang telah menderita gangren selama lima bulan, demikian tutur seorang sanak keluarga tawanan.
Anggota Keluarga Louay Barakat, tahanan berusia 24 tahun, mengimbau kepada kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk turut membantu menyelamatkan nyawanya setelah Louay diserang gangren pada kedua kakinya. Apalagi ketika administrasi penjara menolak untuk memberikan pengobatan bagi dirinya.
Wa'el, saudara Louay, mengatakan dalam sebuah keterangan pers pada hari Senin (7/9) bahwa kondisi Louay saat lima bulan yang lalu terkena gangren di kaki kirinya dan beberapa hari yang lalu penyakit tersebut telah menyebar ke kaki kanannya. Ini akan berisiko besar bagi hidupnya jika otoritas penjara selalu menolak memberikan perawatan dan memperlakukan Louay seperti itu.
Barakat, dari kamp pengungsi Ein di Nablus, telah berada di penjara padang pasir Negev sejak tiga tahun yang lalu. Ibunya berkata bahwa ia melihat tulang-tulang kaki Louay telah nampak ketika terakhir kali ia mengunjungi anaknya. Itu menunjukkan bahwa penyakit tersebut telah memakan daging-daging kaki Louay. Ibunya menuturkan saat ini kondisi kesehatan putranya itu sudah sangat merosot apalagi tanpa adanya perawatan medis, hal ini menjadikan hidup Louay sangat terancam. (mirzah/pic)