Jumat, 10 Pebruari 2012

Krisis Air Bersih

Jelang Musim Panas, Krisis Air Bersih Landa Tepi Barat

Senin, 03/08/2009 15:56 WIB

KNRP - Hari terus berlalu. Khalid Nasyat, seorang pemuda Palestina, terus mengendalikan keledainya menuju sumber air yang berada di pintu masuk desanya, di Tepi Barat, yaitu sebuah wilayah yang termasuk dari sepertiga Tepi Barat yang tidak berada dalam jaringan pipa air bersih Israel. Setiap harinya Nasyat sepuluh kali bolak-balik ke tempat air itu sembari pulangnya membawa dua kantong air yang membebebani bagian kanan dan kiri keledainya.

“Sejak pertengahan Maret di rumah sudah tidak ada air lagi,” keluh Nasyat kepada psnews. Sementara suhu di Qarawah Bani Zaid, desa tempat tinggalnya, mencapai 35 derajat celcius. Keterangan Nasyat itu dibenarkan kepala desa yang memimpin 3.000 jiwa itu. “Setiap musim panas air kami terus berkurang. Warga terus mengeluh. Itulah kesulitan terbesar yang tengah dihadapi Bani Qarawah,” ujar kepala desa itu.

Menurut data Bank Dunia, warga Palestina sangat terbatas dalam mendapatkan air tawar, terlebih lagi di Tepi Barat, di mana konsumsi harian air di sana mencapai 50 liter per orangnya, dan terkadang kebutuhan per orangnya yang mencapai 20 liter air sebagai batas paling minimal. “Tingkatan konsumsi sangat minimal itu menjadikan zona-zona di Tepi Barat itu di bawah standar internasional, yaitu 100 liter per orang setiap harinya,” ujar laporan Bank Dunia dalam laporannya yang dirilis pada April lalu.

Laporan itu menjelaskan, perusahaan air Israel mendistrubiskan airnya untuk memenuhi 90 persen dari kebutuhan warga Tepi Barat. Namun, sepertiga wialyah itu belum dimasuki jaringan pipa air. Dijelaskan juga bahwa Israel telah menarik dua kali lipat dari jatahya yang ditetapkan Kesepalatan Oslo untuk Tepi Barat.

Suzanne Coleman, direktur LSM Sumber Kehidupan, sebuah LSM yang bekerja terkait masalah air minum di Palestina, mengingatkan bahwa pedesaan seperti Qarawah Bani Zaid adalah yang paling banyak menderita. “Selama di bulan-bulan musim panas, Qarawah Bani Zaid mengalami defisit air yang luar biasa,” ujar dia.

Lebih jauh Coleman menegaskan bagaimana Israel terlebih dahulu memenuhi kebutuhan air minum untuk pemukiman-permukiman Israel, lalu mereka memberikan jatah untuk pedesaan-pedesaan Palestina. Hasilnya, ujar dia, air minum tidak sampai ke semua orang.

Sementara seorang warga Palestina, Faryal Farid (34), menegaskan bahwa kondisi kekurangan air itu menyebabkan dirinya harus bolak-balik ke sumber air selama sepekan. “Kami harus minum, membersihkan rumah dan memandikan anak-anak,” kata Farid.
Lebih jauh Farid mengatakan, sumber air itu terletak di dataran rendah di pintu masuk desa. Anak-anak dan wanita mengisi botol-botol mereka dengan air untuk kemudian air itu bercampur dengan air kotor. “Kami tahu bahwa air itu tak layak diminum. Tapi kami meminumnya. Kami memanaskannya. Saya pernah bermukim di Yordania selama 12 tahun, Sulit bagi saya untuk hidup di desa ini. Saya terpaksa membangunkan anak-anak saya pada pukul lima Subuh agar mereka pergi untuk mengisi air. Hal itu sangat melelahkan kami. Tapi saya cukup beruntung karena saya punya SIM, sehingga saya dapat pergi dengan menggunakan mobil,” papar Farid.

Farid mengakui bahwa air minum bisa saja dibeli dari mobil tanki air. Namun ia mengatakan bahwa harganya sangat mahal, yaitu 40 shekel (10 dolar) per meter kubik. Sementara dirinya bergaji 1.800 shekel per bulan.(milyas/psnews)

0 Komentar

Arsip