Minggu, 29/08/2010 22:20 WIB
KNRP - Para pejabat di Departemen Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan bahwa berbagai rumah sakit di Gaza menderita inflasi sejumlah besar obat-obatan yang sudah rusak dan kadaluwarsa, demikian juga peralatan medis yang semuanya itu berasal dari bantuan medis yang tidak teroganisir.
Salah seorang pejabat itu mengatakan bahwa kementeriannya memiliki banyak sekali sumbangan obat-obatan yang dikirim oleh negara donor dan berbagai instansi, dimana obat-obatan itu sudah berakhir masa berlakunya dan sepenuhnya dapat merugikan daripada memberikan manfaat.
Pejabat itu dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Jerman menjelaskan bahwa hanya 30% dari sumbangan medis yang tiba di Gaza yang dapat digunakan oleh rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan.
Dia mengatakan bahwa pihaknya menerima lebih dari 1.300 ton bantuan medis obat-obatan dan alat medis, tapi bantuan yang tidak tertata dan dalam jumlah besar itu menyebabkan banyak masalah.
Dia menambahkan bahwa 22% dari sumbangan medis itu sampai di gudang Kementerian ternyata sudah kadaluwarsa. Sedihnya lagi obat-obatan itu ternyata sudah kadaluwarsa sejak dari negara asal bantuan dan sebagian lagi karena penyimpanan yang buruk di penyeberangan-penyeberangan Mesir.
Selain itu, sejumlah besar obat yang telah disumbangkan itu ternyata tidak terdaftar di dunia internasional, dan tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar mutu di negara donor atau tidak sesuai dengan kebutuhan.
Dia menunjukkan bahwa beberapa dari obat-obatan itu ternyata merupakan contoh yang gratisan, atau masa kadaluwarsa sudah dekat atau bahkan sudah berakhir sebelum tiba di Gaza.
Dia menuduh beberapa sumbangan dari negara dan lembaga itu untuk mengeksploitasi penderitaan penduduk Jalur Gaza untuk kepentingan komersial. "Gaza telah menjadi tempat pembuangan ketika beberapa obat itu telah rusak, dan yang lainnya untuk eksploitasi untuk perdagangan," ujar pejabat itu seperti dikutip Aljazeera.
Menurut pejabat itu, gudang penyimpanan obat-obatan di Gaza 100% dari 114 item obat yang diperlukan ternyata kosong, meskipun Gaza berulangkali kepada para donor untuk menyediakan item-item obat itu.
Menurut organisasi hak asasi manusia yang bekerja di Gaza, lebih dari 300 pasien meninggal dalam waktu tiga tahun karena penurunan status kesehatan mereka karena tidak menerima perawatan yang diperlukan di rumah sakit di Gaza, dan juga karena adanya pencekalan bagi mereka dari bepergian ke luar negeri untuk pengobatan karena adanya blockade Israel.(milyas/aljzr)