Senin, 28/12/2009 19:03 WIB
KNRP - Himpunan Bantuan Medis Palestina (PMRS) menyatakan bahwa kondisi orang-orang cacat di Jalur Gaza kini semakin memburuk selama dan setelah perang Israel di wilayah tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Ahad (27/12), PMRS mengatakan bahwa sangat kurangnya bantuan yang masuk di bidang jasa pelayanan dan obat-obatan akibat pengepungan tahun keempat ini, membuat kondisi di Gaza tak ubahnya seperti kuburan.
Pernyataan ini dikeluarkan dalam kesempatan ulang tahun pertama perang Israel di Gaza yang menorehkan angka luar biasa dalam jumlah penyandang cacat sebagai efek dari perang tersebut. Lebih dari 35.000 penyandang cacat yang tinggal di Gaza, merupakan 2,5% dari populasi.
Pengepungan ini menyebabkan kurangnya bahan baku yang digunakan dalam industri lokal, yang pada gilirannya berdampak negatif terhadap pelatihan dan rehabilitasi penyandang cacat, sebagaimana yang dikemukakan PMRS. Data lebih lanjut memaparkan bahwa 42,7% orang-orang cacat adalah perempuan dan 36,4% lainnya adalah anak-anak.
Untuk itu PMRS tak segan memohon semua faksi Palestina serta kekuatan negara untuk mengakhiri perselisihan internal dan memulai rekonstruksi Gaza. Mereka juga menghimbau masyarakat internasional agar lbih menekan Israel untuk membuka semua penyeberangan dan mengakhiri pengepungan berkepanjangan ini.
Sementara itu, Muawiyah Hasanein, direktur urusan gawat darurat dan ambulans dari kementrian kesehatan di Gaza, mengatakan bahwa banyak tim medis telah mempertaruhkan nyawa mereka selama perang Israel di Gaza untuk mengevakuasi dan menyelamatkan korban.
Lebih lanjut ia mengatakan saat melakukan parade kendaraan ambulans di Gaza sebagai bagian dari kegiatan untuk menandai ulang tahun pertama perang, tantangan yang dihadapi tim ambulans sngat besar selama perang dan hingga kini pun masih menghadapi tantangan serupa dalam menghadapi pengepungan yang menindas. (mirzah/vop)