Rabu, 08 September 2010

Israel Perketat Blokade Lagi

Sabtu, 12/06/2010 17:17 WIB

JERUSALEM - Setelah sempat sedikit memperlonggar blokade atas Jalur Gaza pada Rabu lalu (9/6), Israel kembali mokong. Kamis (10/6) kemarin, pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu itu menegaskan bahwa pihaknya akan kembali memperketat blokade di wilayah berpenduduk 1,5 juta jiwa itu.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Avigdor Lieberman menegaskan, tujuan Israel mengizinkan beberapa komoditas pangan, yang semula dilarang masuk ke Gaza, adalah negosiasi dengan Hamas. "Kami berharap, dengan mencabut blokade minimal atas Gaza, Hamas akan mengizinkan Palang Merah Internasional menjenguk Gilad Shalit secara rutin," kata politikus ultranasionalis itu kepada Agence France-Presse.

Sejak ditangkap milisi Hamas pada 2006, nasib Gilad Shalit tidak jelas. Diyakini, serdadu Israel yang ketika diculik berpangkat sersan itu disekap Hamas di lokasi rahasia di sekitar Gaza. Hamas tidak mengizinkan orang luar menemui Shalit. Tapi, menurut mereka, pemuda berdarah Prancis itu baik-baik saja. Beberapa waktu lalu, Hamas sempat merilis video terbaru Shalit untuk membuktikan klaim mereka.

Terkait usul Lieberman tersebut, Hamas menolak. Menurut mereka, informasi tentang Shalit hanya bisa ditukar dengan kabar baik tentang pembebasan tahanan asal Palestina. Konon, sampai saat ini, Israel masih menyekap ratusan warga Palestina di penjara-penjara mereka. Padahal, mereka tidak pernah menjalani sidang. Dakwaan yang dikenakan kepada mereka pun tidak jelas.

Karena penolakan Hamas itu, Israel pun lantas mengetatkan kembali blokade atas Gaza yang sudah berlangsung sekitar tiga tahun tersebut. Tapi, sejak Rabu, beberapa barang pangan yang biasanya harus diselundupkan dari Mesir sudah bisa dinikmati penduduk Gaza. Di antaranya adalah biskuit, keripik kentang, soda, jus, serta selai.

"Selama permintaan kami tidak dipenuhi, tidak ada alasan bagi kami untuk mengubah situasi (di Gaza)," tegas Lieberman. Tapi, kengototan Israel itu direaksi negatif masyarakat internasional. Sejak diterapkan pada Juni 2006, sesaat setelah Shalit diculik, blokade atas Gaza tidak pernah berhenti menuai kritik. Sebab, hanya demi seorang Shalit, Israel mengorbankan 1,5 juta penduduk Gaza.

Hamas menganggap blokade tersebut sebagai hukuman kolektif bagi Gaza. Apalagi, bukan hanya Israel yang memblokade wilayah laut dan daratnya. Mesir yang juga berbatasan langsung dengan Palestina pun ikut-ikutan menetapkan blokade. Negeri Hosni Mubarak itu menutup perbatasan Rafah yang menjadi lalu lintas dagang utama warga Gaza ke Mesir.

Kini, sekitar 80 persen warga Gaza harus bergantung pada bantuan asing. Bukan hanya bantuan pangan, tapi juga obat-obatan. Wilayah yang rusak parah karena Perang Gaza pada Desember 2008 itu pun tetap porak-poranda. Sebab, Israel sama sekali tidak mengizinkan bahan-bahan bangunan memasuki wilayah yang dikuasai Hamas sejak 2007 tersebut. Semen dan besi baja menjadi dua produk utama yang dilarang. Israel takut, jika dua bahan bangunan itu masuk Gaza, Hamas akan membangun bunker.

Rabu lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pun mengungkapkan keprihatinannya. "Kondisi kemanusiaan di Gaza tidak bisa dibiarkan berlarut-larut," tegasnya. Bersamaan dengan itu, Prancis mengusulkan dibukanya kembali perbatasan Rafah dan wilayah laut Mesir yang berbatasan dengan Gaza. Tapi, tentu saja di bawah pengawasan ketat Eropa. Sayangnya, usul Prancis tersebut ditanggapi dingin Israel.

Sementara itu, Presiden Israel Shimon Peres dilaporkan tiba di Korea Selatan (Korsel) kemarin. Sekitar 50 aktivis menyambut kedatangan kepala negeri Yahudi tersebut dengan protes. "Shimon Peres pembunuh. Cabut blokade Gaza sekarang," teriak mereka di depan hotel tempat Peres menginap, seperti dilaporkan Associated Press. Rencananya, Peres dan rombongan yang berjumlah sekitar 100 orang itu singgah di Korsel selama empat hari. (hep/c5/dos)

sumber : JPNN.com

0 Komentar

Arsip