Majalah Tarbawi
Senin, 10/08/2009 17:14 WIB
KNRP - Tujuh bulan berlalu. Penjajah Israel, seperti terlepas dari hantu roket pejuang Palestina dari Gaza. Usai operasi militer Israel yang memakan korban lebih dari 1300 orang sipil Palestina di Gaza, hampir tidak ada lagi roket-roket yang sebelumnya menjadi momok bagi Israel dan bahkan dijadikan alasan untuk membunuh dan melakukan pembantaian massal di Gaza. Sudah habiskah roket-roket pejuang Palestina? Kita tidak tahu. Yang jelas sejak pertengahan Juli lalu, ada sesuatu yang berbeda di Gaza terkait pola dan metoda perjuangan melawan penjajahan Zionis Israel.
Pola dan media perjuangan memang harus beragam. Tak melulu harus berbasis senjata atau peperangan. Sebab ada banyak sarana yang bisa digunakan, mungkin dalam waktu bersamaan, untuk memperkuat aksi dan misi yang ingin dicapai. Salah satunya, adalah melalui film. Film adalah hasil seni budaya yang kini menjadi bagian penting dalam informasi dunia.
Dr. Adnan Abu Amer, spesialis masalah Palestina mengatakan, ”Hamas sudah mengetahui realitas saat ini, yang tak mungkin baginya untuk melakukan aksi-aksi militer untuk mempertahankan Palestina dari penjajah Israel. Inilah alasan pertama yang nantinya akan membagi peran antara perlawanan bersenjata dan perjuangan lewat budaya.” Seperti juga dikatakan oleh Osamah Aisawi, Menteri Budaya Palestina di pemerintahan hamas, bahwa, ”Fase mendatang akan terjadi dinamika perjuangan melalui budaya yang lebih luas di berbagai bidang, guna mengokohkan budaya perlawanan dalam diri masyarakat.”
Di antara program yang telah diekmas dan ditayangkan oleh Hamas dalam lingkup budaya adalah adanya program Rowadel Ghad, yang artinya wisatawan masa depan. Program ini disajikan untuk anak-anak, di sore hari Jum’at setiap pekannya, melalui channel televisi Al Aqsha yang dimiliki pejuang Palestina, Hamas. Isinya, menanamkan cinta pada tanah air, jiwa pengorbanan, keberanian, dan mengokohkan diri untuk mau membantu negara dan peduli dengan masalah Palestina secara umum. Program tersebut juga didedikasikan untuk mengingatkan anak-anak Palestina sejak dini, bahwa tanah air mereka tengah dirampas, dijajah, keluarga mereka yang terusir dari kampung halaman, lalu mengajak mereka untuk mengambil kembali tanah yang dirampas itu dari penjajah.
Rowadel Ghad juga menyajikan sejumlah film kartun berdurasi pendek yang pernah mengguncangkan media massa Israel. Sebab, dalam salah satu produksi film kartunnya, disinggung tentang penggalian lorong bawah tanah di bawah Masjidil Aqsha, oleh Israel. Juga tentang bagaimana anak-anak menjadi sasaran tembak rudal pesawat Apache milik Israel. Bahkan juga menyampaikan cerita tentang masalah kopral Ghilad Shalit yang diculik oleh pejuang Palestina, hingga kini.
Pejuang Palestina, Hamas, kini mulai melihat peluang lain yang bukan lewat senjata dalam menyebarkan ideologi perlawanan atas penjajah. Peluang itu bisa berupa nasyid perjuangan, buku, prosa, drama atau film. Boleh jadi, empat metode perjuangan yang disebutkan itu sudah banyak dilakukan, kecuali jalur film layar lebar yang belum pernah dilakukan Hamas sebelumnya. Dan bulan Juli ini, tayangan film perdana produk asli pejuang Hamas sudah ditayangkan di Jalur Gaza. Film ini dibuat, untuk menguatkan budaya perjuangan dalam hati rakyat Palestina.
Inovasi perlawanan berkembang lagi menjamah dunia layar lebar. Film action berjudul Emad Akel akhirnya ditayangkan di Gaza dengan disaksikan kurang lebih 1000 orang. Emad Akel, adalah tokoh legendaris pejuang Palestina yang begitu menakutkan bagi penjajah Zionis Israel. Film ini dibuat total di Jalur Gaza. Pengamat memandangnya sebagai salah satu sarana perlawanan modern yang ternyata bisa dimainkan oleh pejuang Palestina dengan baik. Memadukan perlawanan dengan unsur hiburan, kepahlawanan dan figur adalah langkah yang sangat baik, yang terkandung dalam film terbaru berjudul EmadAkel. ”Kelak di Gaza akan terdapat kebangkitan seni dan budaya yang sangat terasa, dengan corak yang istimewa,”jelas seorang pengamat.
Dr Abu Amer, seorang dosen di Universitas Gaza menjelaskan bahwa keterlibatan Hamas dalam pemilu yang kemudian dimenangkan oleh mereka, merupakan indikasi mulai munculnya kesadaran untuk melewati jalur perjuangan di ruang budaya, selain ruang perlawanan senjata. ”Dengan pemilu itu, kesadaran untuk berbagi peran antara perlawanan bersenjata dan ruang lainnya begitu kuat ketika mereka harus memasuki wilayah politik dan sosial yang lebih jauh. Hal itu semakin jelas ketika mereka memenangkan pemilu dan kini merasakan pengalaman memerintah.” Ini sangat berbeda ketika pejuang Palestina pada tahun 1987 saat meletusnya intifadhah, hanya fokus pada masalah perlawanan bersenjata saja.
Rakyat Palestina, harus melakukan pertahanan diri dalam menghadapi kekejaman Zionis Israel. Dan kini mereka ingin merubah persepsi di banyak orang bahwa pertahanan dan perlawanan mengusir penjajah yang dilakukannya, hanya berbasis perang senjata. Boleh saja, produk film EmadAkel ini juga memberi inspirasi bagi siapapun yang ingin menjadikan ideologi perjuangannya bisa lebih dipahami masyarakat. Nyata, masyarakat lebih mudah disentuh dan tertarik lewat produk seni dan budaya, ketimbang produk pemikiran. (M. Lili Nur Aulia)