Jumat, 10 September 2010

KNRP Kumpulkan Dana Untuk Palestina

Jawa Pos: Saking Sibuknya, Muqoddam Tak Sempat Dampingi Istri Melahirkan

Selasa, 08/06/2010 10:46 WIB

Mengenakan rompi dan bertopi dengan lambang bendera Palestina, Muqoddam Cholil sibuk membawa kantong gandum di tengah ribuan demonstran pro-Palestina di Jakarta Kamis lalu (3/6). Massa menyemut di sepanjang jalur Bundaran Hotel Indonesia hingga Monas. Sound system berkekuatan ribuan watt menambah meriah demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen organisasi Islam itu.

Di tengah-tengah orasi belasan tokoh, Muqoddam dan para anak buahnya bergerak lincah di antara kerumunan massa. ''Kami dari KNRP memang diamanahi untuk bertanggung jawab mengumpulkan dana,'' tutur Muqoddam kepada Jawa Pos.

KNRP adalah singkatan dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina. Lembaga yang berkantor di Jalan Jabir, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu didirikan pada 5 Mei 2006. ''Agenda kami yang terdekat adalah mengirimkan bantuan lagi ke Gaza,'' katanya mantap.

KNRP menggandeng Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Rumah Zakat Indonesia, Wahdah Islamiyah, dan Jakarta Islamic School. ''Kami akan masuk melalui Rafah, perbatasan Mesir-Palestina,'' ujarnya.

Sebelum tragedi penghadangan dan penyerbuan atas kapal Mavi Marmara pada Senin lalu (31/5), KNRP pernah masuk Jalur Gaza melalui Rafah. Namun, saat ini pintu Rafah memang masih tertutup. ''Kami mendapat kabar dari organisasi sahabat di Mesir bahwa pintu Rafah segera dibuka lagi,'' kata bapak empat anak itu.

Sebagai ketua harian KNRP, hampir seluruh waktu Muqoddam digunakan untuk mengurusi masalah Palestina. ''Insya Allah, masalah Palestina adalah prioritas utama saya. Yang lain-lain nomor dua,'' ucapnya.

Bahkan, saking sibuknya, Muqoddam tidak sempat mendampingi sang istri yang baru saja melahirkan putra keempat dua pekan lalu. ''Alhamdulillah semua keluarga maklum. Bahkan, 100 persen mendukung,'' katanya.

Di rumah, Muqoddam dan istri menanamkan rasa sayang terhadap permasalahan Palestina kepada anak-anaknya. Selain menempelkan poster dan stiker soal Palestina serta menyimpan buku-buku terkait, mereka sering mengajak anak-anak berdiskusi saat makan.

''Alhamdulillah, Nak. Hari ini kita punya nasi dan lauk untuk dimakan bersama. Saudara-saudara dan teman-temanmu di Gaza belum seberuntung kita, Nak,'' ujar Muqoddam setiap bertutur di depan anak-anaknya.

Hasilnya, anak-anaknya ikut-ikutan berkampanye pro-Palestina di lingku­ngan sekolah dan teman-teman bermain mereka. ''Setiap ada demo, mereka selalu minta ikut,'' katanya.

Setiap hari ada saja aktivitas Muqoddam yang berkaitan dengan pembelaan atas rakyat Palestina. ''Mengisi majelis taklim, diskusi, rapat dengan donatur, dan menggalang aksi-aksi solidaritas,'' jelasnya.

KNRP juga rutin menggelar konser di universitas-universitas dengan tema perjuangan rakyat Palestina. ''Kami dibantu oleh relawan-relawan yang ikhlas. Kalau pekerja tetap, hanya enam orang,'' katanya.

Dia lantas membeberkan tiga misi utama KNRP. ''Tujuan utamanya adalah menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia secara langsung untuk rakyat Palestina, menyebarkan berita akurat dan otentik tentang kondisi Palestina, serta menjadi rujukan isu Palestina di Indonesia,'' paparnya.

Muqoddam menempuh pendidikan S-1 di International Islamic University, Pakistan, pada 1991. ''Setelah itu, saya merantau ke Malaysia empat tahun. Di sana jadi guru SMP,'' ceritanya.

Dia mendapat kesempatan menempuh S-2 di Universitas Kebangsaan Malaysia dengan jurusan pengajian Arab dan tamadun Islam. Lulus pada 2001, dia langsung menempuh program doktoral di University of Malaya, Malaysia, jurusan sejarah dan peradaban Islam, dan lulus pada 2006.

''Saya pulang ke Jakarta pada September atau lima bulan setelah KNRP dibentuk Pak Soeripto (mantan anggota Komisi III DPR). Oleh teman-teman, saya diamanahi jadi ketua harian,'' tuturnya.

Selama dia berkampanye tentang isu-isu Palestina selama empat tahun, ada saja orang yang sinis atau menolak diajak peduli. ''Banyak tipe orang seperti itu. Tapi, kami sabar saja. Kami jelaskan baik-baik bahwa Palestina itu bukan isu agama, tapi isu humanity. Isu kemanusiaan,'' ungkapnya.

Dari hasil sharing dengan beberapa rekan sesama aktivis pro-Palestina di luar negeri, Muqoddam punya kiat-kiat jitu untuk memikat hati orang yang awam dengan isu tersebut. ''Saya biasanya membawa rekaman video kekejaman Israel di ponsel. Juga selalu ada poster atau stiker dalam tas. Jadi, di mana saja bisa mengajak orang untuk peduli,'' katanya. (rdl/c2/dwi)
 

0 Komentar

Arsip