Tahanan Perempuan di Penjara Israel
Senin, 10/08/2009 16:34 WIB
KNRP - Tentara Israel kemarin (9/8) membebaskan lagi seorang tahanan perempuan Asma Bathran (20) setelah menjalani hukuman penjara selama 20 bulan. Bathran ditangkap penjajah Israel sejak 13 Januari 2008, dari rumahnya di Tepi Barat.
Bathran menyampaikan dirinya sangat gembira bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Ia menceritakan bahwa di dalam sel tahanan tempatnya, masih tersisa 49 orang perempuan yang dari waktu ke waktu kondisinya semakin buruk. Kondisi buruk itu disebabkan fase interogasi yang terus menerus dilakukan tentara Israel, khususnya di waktu malam, dan berbagai siksaan lainnya yang menimpa mereka. ”Hari Kamis lalu, sipir penjara Hasharon, melakukan pemeriksaan kasar di dua ruang sel berisi tahanan perempuan. Hasharon beralasan, operasi pemeriksaan itu dilakukan untuk mencari tahanan perempuan yang memiliki alat komunikasi di dalam ruang penjara. Pemeriksaan itu dimulai dari jam 9 malam sampai jam 14 keesokan harinya. Pemeriksaan dilakukan dengan detail ke seluruh ruang penjara termasuk kamarmandi. Tentara Israel juga merusak alat cuci dan menyobek kain seprai,” kisah Batharan. Menurutnya, kondisi penjara perempuan semakin sulit karena seringkali sipir dan tentara Israel melakukan pemerksaan dengan cara yang keji terhadap tahanan perempuan.
Ia berkisah, salah satu cara tentara Israel melakukan interogasi adalah dengan membuka aurat para perempuan di waktu malam. Israel melakukan itu karena menganggap para tahanan perempuan itu merupakan perempuan yang kuat dan sulit diperiksa dengan cara dipaksa dengan kekerasan. Bathran menjelaska juga bahwa misi penting yang ia bawa setelah dibebaskan adalah menyempurnakan proses tukar menukar tahanan dengan Israel, terkait adanya seorang kopral Israel, Ghilad Shalit, yang sampai saat ini masih ditahan pejuang Palestina. ”Saya akan terus berjuang untuk Palestina. Saya tidak mau keluar dari tanah Palestina. Palestina adalah ibarat aliran darah dalam tubuh saya,” jelas Bathran.
Bathran, termasuk tahanan perempuan yang masih berusia muda di tahanan Israel. Ia harus kehilangan kesempatan belajar selama di penjara. Bathran yang duduk di bangku SMU, sebenarnya menurut Pengadilan Tinggi Israel boleh membawa buku pelajaran ke penjara. Tapi sipir penjara selama 20 bulan melarang siapapun membawa buku ke dalam sel. (mln/wmnfpls)