Senin, 08/03/2010 17:35 WIB
KNRP - Sementara dunia tengah merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret, perempuan Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat masih terbelit hidup dalam keadaan sulit. Mereka masih berada di dalam tahanan, pembunuhan, dan tidak mendapatkan hak paling mendasar sakalipun sebagai manusia.
Perempuan Palestina telah menjadi pilar utama Palestina dalam keteguhan guna membela tanah mereka dan untuk tetap eksis, mereka menerima rudal dari pencaplok Israel di Jalur Gaza, berdiri tegak di hadapan pendudukan di Al-Quds dan melawan pendudukan di Jenin.
Mungkin seluruh dunia hari ini tengah merayakan hari perempuan sedunia untuk menghormati perempuan, tapi seorang wanita Palestina pada hari ini bertanya-tanya apakah arti penting perayaan itu sementara hak-hak perempuan di Palestina dilanggar secara fisik dan psikologis, dimana dunia luar seperti tidak pernah tahu akan hal itu.
Pasukan pendudukan Israel sendiri telah menangkap perempuan Palestina sejak tahun 1967, di mana pasukan pendudukan Israel telah menangkap 10.000 wanita Palestina sejak awal pendudukan, termasuk 800 tawanan selama Intifadah, sementara itu sampai sekarang hampir ada 60 perempuan berada dalam tahanan.
Di antara para tahanan itu ada 7 wanita muda usia, yakni di bawah dua puluh tahun, dan terdapat 3 tahanan yang sangat merana dalam tahanan, di samping suami mereka juga tengah mendapatkan hukuman.
Pendudukan Israel memperlakukan tawanan Palestina dengan pelbagai jenis sanksi, terutama berupa isolasi berkepanjangan, atau pemisahan beberapa dari mereka dari anak-anak mereka yang masih kecil, dan bahkan ada di antara mereka yang sudah melahirkan dalam masa penahanan, dan itu menyebabkan mereka pada situasi psikologis yang teramat sulit.
Pasukan pendudukan Israel juga telah menargetkan wanita secara langsung dalam bidikan timah panasnya, yang mengakibatkan gugurnya lebih dari 300 wanita Palestina sejak awal Intifada Al-Aqsa Ke-2 dimana 110 dari mereka gugur dalam sebuah pemandangan yang menyedihkan selama perang baru-baru ini di Gaza.
Tak jauh berbeda, pengalaman perempuan di Al-Quds selama tahun 2010 juga menunjukkan sebuah tantangan tersendiri, bisa jadi Ummu Kamal Kurdi dan tendanya dapat dijadikan sebuah ikon ketabahan, yaitu usai pendudukan Israel membuldoser rumahnya, dengan dalih pembangunan rumah itu ilegal, tapi Ummi Kamal Kurdi mengatakan bahwa dirinya akan menantang langkah-langkah pendudukan yang represif dan ia akan melindungi tanahnya, namun sayang, sang pencaplok lalu menggunakan semua metode untuk penindasan di Al-Quds dan rakyat Palestina.
Ummi Kamal mengatakan, Hari Perempuan Sedunia ini tidak berarti apa-apa bagi rakyat Palestina kecuali hanya mengingatkan akan berbagai tragedi baru berupa pelanggaran di saat dunia merayakan hari perempuan ini.
Sementara perempuan di Gaza sangat berbeda dengan wanita manapun, setelah rumah-rumah mereka ada saja yang gugur atau terluka atau ditahan, pengepungan itu telah menjadi penderitaan lain. Bisa jadi pemutusan hubungan listrik dan gas serta hilangnya bahan-bahan yang diperlukan, itu telah menyebabkan banyak perempuan untuk menemukan cara-cara baru untuk dapat bertahan hidup di bawah keadaan yang sulit.
Lainnya lagi, hasil penelitian terbaru tentang dampak dari perpecahan internal Palestina terhadap perempuan menunjukkan hasil-hasil berikut: 85% dari responden menyatakan bahwa mereka menderita penyakit jantung, depresi, kemarahan dan kegugupan dalam yang berlebihan. 75% mengatakan bahwa mereka merasa tidak aman secara pribadi atau keluarga, 86% mengatakan mereka menderita dari ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian. 71% dari responden merasakan bahwa afiliasi politik untuk Fatah atau Hamas memiliki dampak yang signifikan dalam memilih istri dan suami(milyas/pt).