Senin, 06 Pebruari 2012

Ketika PRT Jadi Pilihan Wanita Gaza

Sabtu, 13/02/2010 19:11 WIB

KNRP – Demi untuk mencari sesuap nasi, wanita-wanita Jalur Gaza tanpa ada rasa sungkan mengetuk pintu rumah orang-orang berada guna menawarkan diri sebagai pembantu. Padahal, sebelumnya profesi tersebut hanya dilakoni oleh orang asing saja. Upaya-upaya kaum Hawa Gaza yang berlomba menjadi pembantu itu adalah pilihan pekerjaan halal yang lebih baik ketimbang harus kelaparan.

Magida, 42 tahun, bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) selama sekitar delapan tahun untuk memastikan agar tiga anaknya dapat bertahan hidup, setelah suaminya kehilangan pekerjaannya di Israel dan keadaan itu akhirnya memaksanya untuk keluar dari rumah lalu menyewa sebuah rumah, dan itu telah menambah penderitaannya.

"Masyarakat pada awalnya tidak menerima gagasan kerja saya sebagai pembantu rumah tangga atas dasar bagaimana seorang wanita bekerja di rumah-rumah sementara suaminya menganggur, tapi sekarang hal-hal itu telah menjadi normal," ujar Magida.

Sebelumnya Magida bekerja sebagai penjahit, tapi kondisi ekonomi masyarakat Gaza yang buruk dan lemahnya permintaan, kondisi itu memaksanya untuk menjadi PRT, yang ia mulai lakoni sebagai bagian dari proyek Yayasan Pekerja Wanita yang menyediakan beberapa pekerjaan bagi sebagian wanita sebagai bagian dari program pemberdayaan perempuan.

Lebih jauh Magida menjelaskan, pada awalnya keluarganya tidak menerima idenya itu dan memintanya untuk meninggalkan anak-anaknya serta menitipkannya kepada ayah mereka, tetapi ia menentang mereka terlebih lagi sang suami malah pergi ke Mesir dan meninggalkannya sendirian dengan tiga anak tanpa adanya penghasilan tetap dan tanpa keluarga yang melindungi anak-anaknya. Magida juga menegaskan bahwa kakak laki-laki terbesarnya sampai hari ini menolak untuk berbicara dengannya karena pekerjaannya itu.

Adalah Rana, 22 tahun, salah satu PRT yang bekerja pada keluarga pejabat Otoritas Palestina. Rana yang bekerja sebagai PRT sejak ia berusia 12 tahun itu tidak ingin orang-orang tahu profesinya itu, meski ia mengaku tidak malu bekerja sebagai PRT karena memang ia membutuhkan materi. Ia menilai masyarakat tidak memiliki belas kasihan dan sepertinya tidak memahami arti kemelaratan.

Rana sendiri terpaksa bekerja sebagai PRT untuk menghidupi dua keluarga setelah kakak-kakaknya dan suaminya menjadi pengangguran. "Keadaan ini memaksa saya untuk bekerja pada orang-orang di rumah mereka, karena keluarga saya miskin dan suami saya sakit, ia punya masalah di dadanya dan tidak mampu bekerja," kata Rana seperti dikutip maannews, Sabtu (13/2). Namun saat ini Rana sudah tidak bekerja lagi setelah keluarga tempatnya bekerja pergi meninggalkan Gaza. "Saya membutuhkan pekerjaaan dan itu harus bagi saya,” keluhnya.

Dari pekerjaannya sebagai PRT, Rana memperoleh gaji antara 50-60 Shekel. Mungkin upah itu sangat kecil, tapi bagi Rana dan kelurga miskin di Gaza, itu cukup untuk memenuhi anak satu-satunya yang berusia satu tahun dan untuk makan.

Lainnya lagi dengan Asma, yang memaksanya menjalani PRT usai kelahiran anak keenamnya yang menderita serangan jantung dan lemah otak akibat bahan kimia yang digunakannya saat menjadi PRT ketika ia membersihkan lantai sementara saat itu ia tengah hamil di bulan ketiga.

"Jika situasinya tidak sebegitu sulit, tentu saya tidak akan mencari pekerjaan di rumah-rumah. Suami saya sakit jiwa dan tidak bekerja, kondisi kami sangat buruk dan sejak tiga bulan yang lalu kami tidak mendapatkan apapun dari urusan sosial", jelas dia.

Naasnya lagi, sekarang Asma telah berhenti bekerja sebagai PRT karena menderita sakit di dada dan takut untuk bekerja di keluarga yang tidak dikenalnya. Ia menegaskan bahwa reputasi dan martabat jika ada kesulitan maka itu tidak lagi berharga.(milyas/mn)
 

0 Komentar

Arsip