Rabu, 21/10/2009 09:36 WIB
KNRP - Perempuan Palestina kini semakin memberikan warna terhadap masyarakat, hal itu terlibat saat mereka dilibatkan dalam kepolisian sebagai salah satu badan keamanan di Tepi Barat. Fenomena itu kian menegaskan peningkatan penerimaan masyarakat atas keterlibatan perempuan dalam dunia kerja khususnya dalam dunia kepolisian.
Kepada Aljazeera, polwan-polwan itu mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam beban pekerjaan mereka dengan laki-laki, karena tugas yang diberikan kepada laki-laki sama juga diberikan kepada mereka.
Letnan Satu Farah Mashri di Kepolisian Kota Nablus mengatakan, "adat dan tradisi bukan lagi masalah di Palestina terkait pekerjaan perempuan. Adalah lebih baik bagi mereka untuk berpartisipasi dalam area ini dan dalam pekerjaan keamananan."
Mashri yang pernah menempati di berbagai pos kepolisian di Tepi Barat itu menyebutkan, pekerjaan mereka sebagai polisi ada dua jenis yaitu administratif dan bersifat lapangan, sehingga seorang polwan juga berdisiplin pada jam-jam kerja resminya di samping kemungkinan penugasan misi tambahan pada setiap saat, dan itu yang menegaskan bahwa polwan terkadang menanggung beban lebih berat daripada polisi laki-laki.
Lebih jauh Mashri menilai kehadiran perempuan di kepolisian itu sangat diperlukan, karena keragaman tugas, terutama yang berkaitan dengan penangkapan perempuan atau pemeriksaan rumah atau pengawasan narapidana perempuan di lembaga pemasyarakatan.
Mashri menyebutkan beberapa kesulitan yang menghadang seorang polwan di antaranya saat tugas di lapangan yang terkadang sampai menjelang tengah malam, yang itu sulit diterima keluarga. Namun ia menekankan bahwa pandangan masyarakat mulai berubah tentang pekerjaan mereka, bahkan banyak wanita muda yang berminat untuk bergabung dengan dunia kepolisian.
Polwan senior itu menjelaskan, tugas mereka tidak terbatas pada pekerjaan polisi saja, tetapi juga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti membantu memetik buah zaitun, membantu banyak anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Sementara Margelet Mahmoud, salah satu polwan Palestina lainnya, mengatakan bahwa dia memperoleh keterampilan tertentu yang hanya didapatnya dari kepolisian. "Keyakinan diri, penyempurnaan karakter saya secara positif, pengambilan keputusan dan keberanian, itu semua meningkatkan pembangunan diri sendiri," ujar Margelet.
Ia menjelaskan bahwa persepsi masyarakat memang berbeda dari satu orang ke orang lain terkait pekerjaan perempuan di kepolisian. "Keluarga saya pada awalnya menolak saya bekerja, tetapi sekarang tidak ada lagi, bahkan saya didorong untuk itu,” imbuh Margelet.
Sementara Direktur Humas dan Informasi Kepolisian Nablus, Mayor Ashraf benar-benar yakin bahwa tidak ada perbedaan sama sekali antara perempuan dan laki-laki di kepolisian. Dia menunjukkan bahwa polwan banyak yang telah mencapai pangkat tinggi dan memiliki ijasah pendidikan tinggi.
Seorang profesor sosiologi di Universitas Nablus, Faisal Zaanoun, mengatakan, tingkat pengangguran yang tinggi, perluasan lapangan kerja kepolisian dan kebutuhan perempuan untuk keamanan, itu semua merupakan faktor-faktor yang memicu meningkatnya jumlah perempuan yang terdaftar di kepolisian.
Untuk diketahui, laporan dari Kantor Humas kepolisian di Palestina menunjukkan bahwa jumlah perempuan di kepolisian mencapai 257 orang.(milyas/aljzr)