Nikah Massal Tunanetra di Gaza
Selasa, 04/08/2009 12:26 WIB
KNRP - Di sebuah panggung berhias puluhan bunga. Empat puluh orang mempelai pria berbaris dan tersenyum. Muka mereka mencerminkan kebahagiaan di hari pernikahan massal pagi menjelang siang hari itu. Tapi ada yang tidak biasa dari penampilan para mempelai. Mereka seluruhnya memakai kaca mata hitam. Mungkin itulah yang membedakan kondisi mereka dengan pernikahan massal pada umumnya. Ya, mereka seluruhnya tuna netra.
Pagi hari Ahad (2/8), kini giliran mereka menyusul ratusan pemuda lainnya yang telah menyelenggarakan pernikahan massal di Gaza. Meski mereka tak lagi dapat melihat, tapi kebahagiaan jelas terpancar dari wajah mereka. Shade Dhahir, salah satu mempelai, mengatakan, ”Saya belum pernah merasakan kebahagiaan seperti hari ini sebelumnya. Jika saya bisa mengeluarkan kebahagiaan dari hati saya dan saya berikan ke seluruh duia, niscaya masih ada kebahagiaan yan tersisa. Hari ini, adalah hari pernikahanku, meskipun aku seorang tuna netra.” Ia lalu bercerita bagaimana sudah bertahun-tahun lamanya ia bermimpi ingin menikah. Ia mengaku seringkali kehilangan harapan saat ingin menjalin hubungan dengan seorang perempuan. ”Siapa yang ingin berpasangan dengan suami yang tidak bisa melihat dan hanya menanggung beban kesulitan di sisa umur saya?” demikian ujar Dhaher. Tapi segala kedukaan itu seperti hilang, ketika ia mendengar di media massa ada program pernikahan para tuna netra. ”Harapan itu kembali lagi kepada saya, dan saya segera mendaftarkan diri di hari Jum’at. Di sana mereka mengajukan seorang perempuan kepada saya dan dia bisa menerima saya apa adanya,” ujar Dhaher.
Bagaimana komentar para perempuan yang menjadi pendamping mereka? Umumnya, mereka mengatakan pernikahan itu mereka lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt karena para pemuda itu juga mempunyai hak untuk hidup berkeluarga dan memiliki anak sebagaimana orang lain. Rana, salah satu mempelai perempuan, mengatakan, ”Saya akan menjadi mata baginya yang bisa melihat dan mengarahkannya. Saya akan menerangkan kehidupannya dengan lentera kebahagiaan. Saya berharap dari kaum perempuan, agar tidak mengharamkan diri mereka dari pahala besar ini. Hendaknya mereka berpikir serius untuk memperhatikan kelompok orang yang terlupakan secara sosial ini. Jika kita tinggalkan mereka, bagaimana nasib mereka nantinya?”
Pernikahan massal kaum tuna netra ini diikuti oleh 40 orang pasang mempelai. Di antara mereka ada 17 orang yang menjadi tuna netra akibat perang Israel atas Gaza beberapa waktu lalu.
Sejak berakhirnya perang Israel atas Gaza yang berlangsung 22 hari itu, peristiwa pernikahan massal seperti tidak berhenti digelar di Jalur Gaza. Berbagai organisasi dan yayasan dari lintas komponen masyarakat Gaza yang mengatur ragam pernikahan massal itu. Termasuk pernikahan massal untuk para janda syuhada yang digelar oleh Hamas beberapa waktu lalu.
Wael Zard, kepala Organisasi Teser Zawaj yang mengurusi masalah kemudahan dalam menikah, di Gaza, mengatakan, bahwa pernikahan ini merupakan program organisasinya yan pertama kali, untuk membantu para pemuda yang mengalami keterbatasan, baik karena masalah ekonomi, maupun masalah lainnya, akibat blokade Israel yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun. ”Organisasi kami berusaha setiap tahun untuk menyelenggarakan acara khusus seperti ini untuk semuanya. Ada fase untuk memudahkan pernikahan para korban intifadhah, korban israel secara umum, dan kali ini untuk para tuna netra di Gaza,” jelasnya. Ia pun menerangkan bahwa apa yang dilakukannya ini, merupakan yang pertama kali di dunia Arab. (mln/iol)