Sabtu, 28/11/2009 16:12 WIB
KNRP - Tersebutlah empat tahanan wanita dari wilayah Palestina Dalam dan 34 lainnya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza yang masih mendekam di penjara-penjara Israel. Kebanyakan dari mereka berada di Penjara Hasharon.
Pihak berwenang di penjara penjajah Israel sudah sejak jauh hari menyampaikan ihwal larangan bagi para tahanan itu untuk menggelar perayaan Idul Adha, untuk mendendangkan lagu-lagu nasional dan keagamaan.
Presiden LSM Mandela Foundation yang juga seorang pengacara, Buthaina Duqmaq Zarhn, berhasil membesuk para tahanan itu dan memberikan keterangan, "Situasi di dalam penjara menjadi tak tertahankan karena serangga dan tikus yang mempersempit para tahanan itu, sampai-sampai pakaian dan makanan para tahanan itu rusak, yang itu akan memicu pada kekhawatiran adanya yang tertimpa penyakit."
Duqmaq mengatakan kepada aljazeera, Jum’at (28/11), "Pengurus penjara melarang para tahanan untuk menggelar perayaan, lagu-lagu kebangsaan dan keagamaan saat lebaran, sementara itu kondisi kehidupan mereka semakin memburuk akibat kebijakan pengabaian atas tuntutan mereka dan meruyaknya tikus dan kecoa di dalam sel-sel serta penolakan manajemen (penjara) agar mereka disediakan pestisida untuk membasmi itu"
Sementara Qahira Saadi, tahanan wanita Palestina dari kamp pengungsi Jenin mengatakan, anak-anaknya hidup dalam penderitaan dan kesakitan saat mereka membesuknya lantaran mereka melihat tangan dan kakinya diborgol dan diikat. Saadi menambahkan, bocah-bocah itu mengulangi pertanyaan apa sebab kakinya itu dibelenggu oleh rantai besi.
Terkait derita mereka itu, Departemen Tahanan Palestina telah memberikan bantuan kepada para tahanan wanita Palestina itu. Tetapi Israel menolak untuk menyampaikan bantuan itu.(milyas/aljzr)