Jumat, 10 Pebruari 2012

Tahanan Perempuan

Ummu Ibrahim Pertahankan Jilbab Selama Diinterogasi

Senin, 10/08/2009 15:18 WIB

KNRP - Tentara Israel biasa menangkap istri para pejuang Palestina sebagai salah satu cara untuk menekan perlawanan yang dilakukan para suami mereka. Para istri pejuang Palestina itu akan diinterogasi secara keras hingga akan memunculkan ketakutan bagi keluarga siapapun yang terkait dengan perlawanan menentang penjajahan Israel.

Belakangan, Israel melepas seorang Muslimah, Ummu Ibrahim yang merupakan istri pejuang Palestina bernama Bassam As Saedi. Ummu Ibrahim (49) yang ditahan selama enam bulan tidak pernah punya keterlibatan dalam masalah politik maupun organisasi pejuang Palestina. Tapi penahanan dirinya selama enam bulan dan kekerasan yang dialaminya dalam fase interogasi, tak membuatnya melemah dan justru memperkuat keimanannya.

Dalam wawancara yang dilakukan alquds online, ia menyampaikan bahwa pengalaman penangkapan dirinya dari dalam rumah, dan di hadapan anak-anaknya, kini sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka. “Semua rumah di Tepi Barat yang berada di bawah tekanan penjajah akan mengalami situasi seperti ayng kami alami,” ujarnya. Tapi itu bukan berarti ia melewati peristiwa penangkapan enam bulan itu dengan suasana biasa biasa saja. Karena menurutnya, yang membedakan antara penangkapan dengan lainnya, adalah pada masa interogasi. ”Saya selama 26 hari terikat dalam kondisi berdiri di sebuah kayu dengan jatah waktu kurang lebih hanya 8 jam untuk duduk setiap satu hari. Selama itu, saya mendengarkan kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya,” ujar Ummu Ibrahim.

Tentara Israel mengeluarkan caci maki terhadap Allah dan Rasulullah saw. “Tapi saya melawan semua kata-kata kotor itu dengan terus menerus berdzikir, bertasbih dan melantunkan ayat-ayat suci Al Quran,” jelas Ummu Ibrahim. Selain itu ia juga mengaku mengalami penyiksaan saat interogasi yang dilakukan lebih dari satu orang tentara, bahkan beberapa kali terdiri dari beberapa orang interrogator dengan memberikan ragam penyiksaan dan mengancam akan menangkap anak-anaknya.

Ummu Ibrahim mengatakan, “Interogasi yang dilakukan begitu berat sekali. Saya merasa ajal saya sudah dekat. Karena itu saya berupaya meminta izin bagaimanapun caranya untuk bisa diizinkan melihat keluarga saya. Saya sepertinya siap meninggalkan keluarga saya karena sudah tidak tahan menderita di dalam penjara.”

Pelajaran berharga yang ia dapatkan selama masa penahanan itu adalah bagaimana ia bertahan mengenakan jilbab untuk tidak dilepaskan. Tentara Israel telah memaksanya untuk melepaskan jilbab, tapi Ummu Ibrahim berusaha menutupinya kembali dengan kain atau benda apapun yang bisa digunakan untuk menutupi, termasuk dengan baju dan pakaiannya. ”Ketika mereka memaksa saya melepaskan jilbab, saya katakan, ”Agama saya, Islam saya, sampai mati menyatakan tidak boleh seorang melepas jilbabnya.” (mln/alqdsonline)
 

0 Komentar

Arsip