Jumat, 10 Pebruari 2012

Lagi, Gaza Hasilkan Ribuan Penghafal Alqur’an Sang Pembebas Al-Aqsa

Jumat, 09/10/2009 19:28 WIB

KNRP – Perdana Menteri Palestina Ismael Haneyah menegaskan bahwa blokade atas Jalur Gaza telah berdampak negatif bagi para pelaku blokade itu. Pasalnya, sambung Haneyah, blokade itu justru semakin menguatkan komitmen warga Gaza terhadap Islam dan semakin memberikan dukungan kepada Hamas.

Di sela-sela sambutannya dalam wisuda 6.000 hafiz (penghafal) Alqur’an yang diselenggarakan Departemen Wakaf pada Kamis (8/10) kemarin di Gaza, seperti diberitakan qudspress, Jum’at (9/10), Haneyah menegaskan, pelulusan jumlah besar dari hafiz Alqur’an di Jalur Gaza itu tidak bisa dipisahkan dari proyek besar Islam, proyek pembebasan, proyek kembali ke Al-Quds, ke Al-Aqsa dan ke tanah-tanah Palestina.

“Kami melihat bahwa faktor terpenting dari kekuatan dan ketegaran serta faktor-faktor kemenangan dan pembebasan itu adalah membentuk manusia Palestina yang komitmen dan disiplin dengan syariat Allah, yang menjaga Kitabullah, dan mereka itulah yang paling mampu untuk mengemban amanah, untuk mengikuti perjalanan, untuk berkorban di jalan Allah, untuk berkorban demi Al-Quds dan Al-Aqsa, Palestina, untuk kemuliaan bangsa dan kemuliaan ummat,” papar Haneyah.

Lebih lanjut Haneyah mengatakan, angkatan hafiz itu merupakan angkatan kemerdekaan, kemenangan dan pembebas Masjid Al-Aqsa, dan mereka itulah kabar gembira untuk generasi masa depan Palestina.

Haneyah menambahkan, mereka hendak melakukan isolasi, tekanan dan penyerangan terhadap Gaza dengan harapan warga semakin menjauh dari Alqur’an, Islam dan Hamas serta cita-cita tegaknya pemerintahan yang cerdas. “Tapi hari ini merupakan jawaban nyata atas konspirasi-konspirasi itu dan atas mereka yang telah melakukan konspirasi atas Gaza. Bahwa blokade itu menjadikan keimanan warga bertambah, dan keteguhan mereka pun meningkat, masjid raya dan masjid-masjid dipenuhi oleh mereka yang ruku dan sujud, dan dengan blokade inilah kami dapat menghasilkan ribuan penghafal Alqur’an yang mulia dan kami berhadapan dengan militer terkuat di wilayah ini, kami telah mempecundangi sang musuh Zionis, kami akan tiba di Masjid Al-Aqsa,” tutur dia.

Hal menarik lain, Haneyah menjelaskan bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah terjadi setelah Rasulullah dan Bani Hasyim diisolasi di Makkah selama tiga tahun, setelah isteri dan pamannya wafat.(milyas/qudspress)
 

0 Komentar

Arsip