Kamis, 24/09/2009 20:22 WIB
KNRP – Kahl Gazawi Awajah tampak murung meski Idul Fitri menjemput. Ia terlihat sibuk menyambut tamu-tamunya yang datang ke tendanya yang sudah sobek tempat ia berlindung dari sengatan mentari bersama anggota keluarganya, sejak militer Israel menghancurkan rumahnya saat Gaza terakhir kali diserang Israel secara brutal.
Sejak pagi, puluhan warga Palestina, termasuk anak-anak dan wanita, terlihat lalu-lalang di Pemakaman Syuhada di Jabaliya. Mereka komat-kamit melantunkan Al-Fatihah dan doa bagi arwah anak-anak mereka yang gugur akibat serangan Israel atas Gaza. Beberapa kuntum bunga mawar tampak menghiasi nisan kuburan.
Awajah, 48 tahun, duduk di atas kursi plastik putih di depan tendanya yang lusuh untuk menyambut kerabat dan tetangga yang hendak mengucapkan hari raya Idul Fitri. Namun, dengan senyum sendu Awajah mengatakan, “Saya merasakan bahwa hari (lebaran) ini sangat aneh, bukan karena sepertinya Ied, kegembiraan itu belum dirasakan hati saya dan hati anggota keluarga saya. Hari ini kepedihan itu kembali terasa, dan rasa sakit itu kembali terungkap dimana kami berupaya untuk melupakannya sejak perang itu. Ied itu mengingatkan kami kepada orang-orang yang telah hilang dari kami.”
Awajah melanjutkan kisahnya, “Mereka telah membunuh anak saya Ibrahim, dan dia itu belum genap Sembilan tahun. Ketika itu ia dalam dekapan kami saat mereka merangsek masuk ke rumah dan memuntahkan peluru lalu membunuhnya. Saya dan ibunya Ibrahim terluka, lalu kami meninggalkan rumah dengan darah berceceran kemudian mereka menghancurkannya.”
Awajah juga mengungkapkan kenangannya. “Pada lebaran lalu Ibrahim datang sebelum shalat Ied sambil mengajukan permintaan lebaran. Mana dia sekarang agar saya memberinya uang dan gula-gula?” kata Awajah sedih.
Tenda Awajah sendiri berdiri tegak tepat di atas puing-puing rumahnya di dekat bekas pemukiman Duget di pinggiran Desa Beit Lehiya di utara Jalur Gaza. Di sudut tendanya itu tampak tergolek televisi kecil yang di atasnya lampu yang menjadi penerang satu-satunya.
Sementara istri Awajah mengatakan, “Bagi kami, keluarga syuhada dan mereka yang rumahnya hancur, tidak ada beda antara lebaran, Ramadhan dan hari-hari biasa. Cukuplah Allah sebaik-baiknya penolong. Mana Fatah dan Hamas? Mana bangsa Arab dan ummat Islam yang meninggalkan kami di abad ke-21 ini yang hidup di tenda-tenda yang sudah lapuk layaknya orang mati?”.(milyas/paltoday)