Pengungsi Palestina di Jordania
Selasa, 18/08/2009 11:38 WIB
KNRP - “Anak laki-laki saya yang belajar dan tumbuh di Yordania itu bukan lagi seorang tahanan berkebangsaan Yordania setelah pemerintah mencabut kewarganegaraannya,” kesal Walid Abdul Kadir terhadap otoritas Yordania. Pasalnya, anaknya, Rafat, telah dijatuhi vonis penjara 20 tahun oleh pengadilan Israel tak lama setelah paspor Yordanianya dicabut sehingga Israel leluasa membekuknya.
Walid menegaskan, penderitaan anaknya semakin mengenaskan setelah Yordania mencabut kewarganegaraannya yang saat itu ia tengah melakukan perjalanan ke Tepi Barat pada tahun 2002 untuk studi di Universitas Najah sebelum akhirnya ia dibekuk Israel atas tuduhan dukungannya terhadap pejuang Palestina.
Kepada wartawan Aljazeera dijelaskan, dirinya tak mengetahui alasan pemerintah Yordania mencabut kewarganegaraan anaknya itu. Ia menjelaskan, otoritas mencabut kewarganegaraan anaknya saat ia hendak memperbaharui paspornya agar sementara waktu dapat memiliki paspor Yordania.
Untuk memperjuangkan nasib buah hatinya itu, Walid dan isterinya melakukan aksi demonstrasi persis di depan kantor kementerian sembari menenteng foto anak mereka dengan muka pilu. Mereka berdua meminta pemerintah Yordania mengembalikan kewarganegaraan anaknya untuk kemudian pemerintah berupaya membebaskannya dari sel penjajah Israel.
Sementara pihak otoritas Yordania beralasan bahwa penarikan itu sesuai dengan keputusan dengan pihak Tepi Barat yang diterbitkan pada tahun 1988. Selain itu, otoritas juga menafikan adanya motif politik di balik penarikan kewarganegaraan itu. Di lain pihak para pegiat HAM di Yordania menjelaskan, penarikan kewarganegaraan itu bertentangan dengan undang-undang Yordania dan undang-undang kewarganegaraan.
Saat ini, lima tahanan yang tengah mendekam di sel-sel Israel tercatat tiga dari mereka yang masih berkewarganegaraan Yordania. Sementara dua lainnya yaitu Rafat Walid Abdul Kadir dan Ahmad Muhamad Kharus sudah dicabut.
Puluhan orang dari keluarga besar tahanan di sel-sel Israel dan mereka yang tak diketahui rimbanya melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor kementerian Yordania. Direktur Komisi Keluaraga Tahanan, Maisarah Mals, mengatakan, aksi unjuk rasa itu adalah pertama kalinya untuk mengingatkan kembali janji pemerintah Yordania yang akan mengagendakan pembebasan warganya yang ditahan di sel-sel Israel dan mereka yang tidak diketahui rimbanya.
Sementara Asma Saleh, istri Ibrahim (mantan komandan Batalion El-Qassam) yang ditahan di Tepi Barat, yang ikut dalam aksi itu, meminta pemerintah Yordania agar memberinya surat keterangan agar dirinya bisa membesuk suaminya,. Lainnya lagi, ibu Munir Mara, tahanan Palestina yang divonis mati di Israel, tampak dalam aksi itu dengan muka menangis dan meminta para pegiat media maassa untuk tak melupakan masalah anaknya dan tahanan-tahanan Palestina lainnya di sel-sel Israel.
Ibu Munir memandang aneh bagaimana Israel begitu gaduh hanya karena masalah Gilad Shalit sementara di sana ada lebih dari 11.000 tahanan Palestina dengan penyikapan yang biasa-biasa saja.(milyas/Aljazeera)