Pengungsi 1948
Rabu, 22/07/2009 14:31 WIB
KNRP - Sebuah kunci. Apa artinya? Bagi warga Palestina yang terusir, kunci merupakan symbol estafeta perjuangan yang sangat penting. Hingga kini, para pengungsi Palestina tetap menyimpan kunci rumah mereka yang ditinggalkan di kampung halaman, akibat serangan militer Israel di tahun 1948. Mereka, memelihara kunci-kunci rumah mereka yang saat ini besar kemungkinan sudah rata dengan tanah berganti dengan gedung milik Israel. Tapi mereka benar-benar akan tetap memelihara kunci itu, yang akan diwariskan ke generasi keturunan mereka, agar semangat kembali ke tanah air tetap terjaga.
Aljazeera beberapa waktu lalu menghunjungi sejumlah orang yang menjadi pengungsi dalam tragedy Nakba (bencana) pengusiran warga Palestina tahun 1948, di Tepi Barat. Sejumlah keluarga menunjukkan kunci pintu rumah mereka, yang dibawa mereka saat terusir dari kampung halaman. Istimewanya, meski kunci itu hanya berupa besi dan sudah tidak bisa digunakan lagi, mereka tak mau menjualnya dengan harga berapapun.
Haj Khadhar Mohammed Anani, kini berusia 79 tahun. Ia dahulu berasal dari kampung bernama Ajor, dan hingga kini menolak bila harus memiliki akte kelahiran versi penjajah Israel. Ia yakin bahwa perubahan akte kelahiran berarti merubah jatidirinya sebagai rakyat Palestina. Kepada Aljazeera, Anani mengatakan sangat rindu dengan kampung halamannya dan ia yakin kelak ia akan kembali ke sana. Karena itulah, hingga kini ia tetap menyimpan baik kenangan kampung halaman berupa kunci rumah yang dibawanya saat diusir tentara Israel.
Sementara itu, Haj Abdul Aziz Isa, kini usianya sudah 85 tahun. Ia menunjukkan sebuah pisau dan alat pembuat roti yang ia bawa dari kampung halamannya. “Saya tidak mau menjual alat-alat ini, karena menjualnya sama saja dengan saya menjual jati diri saya,” ujarnya. Menurutnya, saat ia diusir, pasukan Israel sudah ingin menyita pisau yang dibawanya itu. Tapi dengan susah payah, ia menolak memberiakn pisau itu pada pasukan penjajah Israel. Dan kini, pisau itu disimpan oleh salah seorang anaknya.
Ada juga sebagian pengungsi lain yang tidak sempat membawa barang apapun kecuali pakaian yang melekat di badan, saat terusir. Tapi mereka mempunyai filosofi lain tentang hal ini, yakni umumnya mereka mengatakan, meski tak membawa apapun dari kampung halamannya, itu menunjukkan bahwa kelak mereka sangat yakin akan kembali ke tanah kelahirannya itu. (mln/aljzra)