Jumat, 12 Maret 2010

Musim Dingin Ancam Keselamatan Ribuan Pengungsi Gaza

Rabu, 11/11/2009 19:20 WIB

KNRP - Dengan dimulainya musim dingin, maka dimulai juga derita warga Jalur Gaza yang terus berlangsung setiap tahun lantaran embargo internasional dan dunia Arab sejak Pemilu legislatif terakhir yang dimenangkan oleh Hamas.
 

Penderitaan itu kian berat saat musim dingin tiba, dimulai dari kurangnya gas, udara dingin menusuk, listrik padam, dan yang paling menderita adalah para penghuni kamp perkemahan setelah rumah-rumah mereka hancur yang mengakibatkan mereka terlantar.

Organisasi-organisasi PBB yang beroperasi di Jalur Gaza memperingatkan bencana kemanusiaan yang melanda Jalur Gaza yang terkepung oleh Arab dan Zionis sejak Juni 2007, dan penderitaan mereka semakin berat ketika musim dingin tiba plus badai angin dan hujan lebat.

"Musim dingin itu akan menyebabkan bencana kemanusiaan di Gaza. Kamp perkemahan, yang dihuni oleh keluarga Gaza akaibat rumah-rumah mereka dihancurkan oleh penjajah Israel, tidak dapat menahan angin dan hujan," ujar laporan organisasi-organisasi PBB itu seperti dikutip paltimes, Selasa (10/11).

United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Program Pangan Dunia, dan United Nations Development Program melaporkan, "Pendudukan telah menghancurkan lebih dari 3.500 unit hunian secara total persis di depan para penghuninya, puluhan ribu keluarga terusir terlunta-lunta, dan letupan api pecahan peluru dan granat roket Israel mengakibatkan kerusakan nyata atas 50 ribu unit hunian, dan Gaza memerlukan sekitar 60 ribu unit rumah secepatnya untuk menampung mereka yang terkena dampak perang dengan dana sedikitnya satu miliar dolar AS."

Laporan itu mengimbuhkan, "Blokade yang mencegah masuknya bahan bangunan ke Gaza selama hampir empat tahun, akhirnya memicu kebutuhan 4000 ton semen per hari dan 100 ton besi per hari dari untuk rekonstruksi."

Laporan juga menekankan bahwa "Warga Palestina yang tinggal di tenda penampungan, mereka sekarang bahkan tidak punya tenda untuk tempat bernaung mereka, yang telah sobek-sobek akibat terik matahari pada musim panas atau akibat tertiup angin.”

Karena pelbagai penderitaan itu, organisasi-organisasi PBB itu menyerukan untuk mengakhiri embargo dan merekonstruksi rumah yang hancur serta menyusun sebuah rencana untuk proyek-proyek pembangunan dan rehabilitasi usai agresi Israel di Gaza, yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.400 orang Palestina dan melukai lebih dari 5.400 orang lain, serta menghancurkan sekitar 60 ribu rumah yang menybabkan para penghuninya terlunta-lunta.
 

Ibrahim Radwan, Wakil dari Kementerian Perumahan Palestina menjelaskan, ada sekitar 60 ribu keluarga yang menderita akibat agresi Zionis di Jalur Gaza, dengan rincian 3.500 keluarga rumahnya hampir hancur sepenuhnya dan sampai sekarang belum dibangun kembali, sementara rumah-rumah lainnya terancam roboh.

Pemerintah dan Badan Pengungsi (UNDB) telah memberikan bantuan materi kepada para korban, semuanya sesuai dengan kerusakan yang diterimanya. Pemerintah juga memberikan kamar-kamar kecil yang bisa berpindah-pindah untuk 120 keluarga. Demikian juga pemerintah bekerjasama dengan Bank Pembangunan Islam mampu memperbaiki 5 ribu rumah yang runtuh, tetapi itu semua tidak cukup atau layak dengan terlambatnya rencana rekonstruksi akibat embargo ekonomi, politik dan kelangkaan bahan bangunan.

Radwan menggambarkan bahwa proporsi penduduk yang tinggal di tenda-tenda pengungsi itu lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang mampu menyewa rumah berkat bantuan materi yang diberikan kepada mereka. Ia juga menegaskan, pemerintah bekerja dengan tekun untuk menampung para pengungsi sebelum musim dingin memuncak.

Lebih jauh Radwan meyakinkan semua keluarga yang rumah mereka hancur bahwa pemerintah bekerja untuk kembali membangun rumah mereka di area seluas 100-110 meter persegi, dan ada sekitar 1.000 rumah dibangun dari asbes telah dihancurkan, namun pemerintah akan kembali membangun rumah-rumah itu dengan beton bertulang.(milyas/paltms)

 

0 Komentar

Arsip