Dunia Islam "Abaikan" Pengungsi Palestina di Irak
Selasa, 28/07/2009 12:34 WIB
KNRP - LSM Markaz El Audah sangat menyayangkan sikap dunia Arab dan Islam yang tidak peduli terhadap nasib pengungsi Palestina yang berada di Irak. Dalam siaran persnya seperti dikutip situs paltimes, disebutkan bahwa Negara-negara Arab secara tenang tak melakukan tindakan apapun untuk mencari solusi atas masalah pengungsi-pengungsi Palestina sementara Negara-negara lain (Swedia, Islandia, Brazil, India, Malaysia dan AS) sudah memberikan mereka tempat tinggal.
Kritikan LSM yang berkantor di London itu bersamaan dengan laporan-laporan berbagai media terkait persetujuan Washington untuk kembali memberikan kewarganegaraan kepada 1.350 pengungsi Palestina untuk meninggalkan Irak sejak invansi AS di Irak menuju salah satu negara bagian AS.
“Sudah terjadi ketidakpedulian pemerintah-pemerintah Arab dan Islam secara umum sejak tahun 2003 dan juga sebelumnya, demikian juga PLO, terkait hak-hak para pengungsi Palestina di Irak. Tidak ada bantuan atau dukungan kebijakan apapun atau dukungan materi dari mereka. Para pengungsi seperti dibiarkan menjadi ladang pembantaian dan konflik sektarian di tangan milisi-milisi sektarian di Irak”, kata El Audah.
LSM itu juga menuduh Pemerintah Irak tidak melakukan hal semestinya terhadap para pengungsi Palestina, di mana Irak tidak mengakui mereka hanya karena mereka memiliki kartu identitas yang dikeluarkan pada era rezim Saddam Husen. Namun juga pemerintah baru tidak memberi mereka kartu identitas baru, terlebih karena nama-nama para pengungsi itu tidak tercatat di Unrwa, lembaga di bawah PBB yang mngurusi pengungsi.
Terkait kondisi itu, Markaz Elaudah menuntut pihak-pihak berwenang di Irak untuk segera memberikan perlindungan semestinya terhadap pengungsi-pengungsi Palestina yang masih tersisa di Irak.
Dalam laporannnya, El Audah juga menyebutkan bahwa para pengungsi itu sangat menderita saat tinggal di kamp-kamp pengungsian padang pasir. Mereka tidak mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak dan fasilitas-fasilitas pokok lainnya. Akibatnya, sambung El Audah, puluhan dari mereka meninggal dunia secara mengenaskan.
Oleh sebab itu, El Audah meminta agar nama-nama pengungsi itu dicantumkean ke UNRWA, agar mereka mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, bantuan seperti layaknya pengungsi-pengunsgi Palestina lainnya yang nama-namanya tercatat di negara-negara tempat mereka bernaung.
Untuk diketahui, sejumlah LSM mencatat bahwa jumlah pengungsi Palestina di Irak sebelum invansi AS ada sekitar 26.000. Saat ini masih tercatat 14.000 pengungsi, di mana sebagian dari mereka bermukim di zona-zona perbatasan padang pasir antara Yordania dan Irak, demikian juga di zona padang pasir perbatasan Irak-Suriah.
Urusan Pengungsi Irak pada dua tahun lalu telah menutup Kamp Ruwaisid setelah pata pengungsi itu ditempatkan ke Brazil dan beberapa negara Eropa. Lembaga tersebut juga menempatkan pengungsi di Kamp Perkemahan El-Waleed dan Tanf ke negara-negara Eropa.
Jumlah pengungsi di Kamp Perkemahan El-Waleed sendiri ada sekitar 17.000 pengungsi yang berasal dari 322 kepala keluarga. Sementara jumlah pengungsi di Kamp Tanf berkurang sampai 600 orang dan mereka kini dalam pengawasan Kantor Urusan Pengungsi di Suriah. (milyas/paltims)