Jumat, 10 Pebruari 2012

Sangat Kumuh, Kamp Pengungsian Palestina di Libanon Terancam Flu Babi

Selasa, 15/09/2009 08:05 WIB

KNRP – Saat musim dingin sudah hampir tiba dan sekolah-sekolah mulai kembali dibuka, ancaman flu babi sudah menanti para siswa itu. Tak pelak, sejumlah negara menunda tahun ajaran baru sekolah sampai tindakan antisipasi dilakukan.

Tak ketinggalan juga virus H1N1 itu mengancam kamp-kamp perkemahan pengungsian Palestina di Libanon berikut sekolah-sekolahnya. Bahkan, ditengarai virus itu akan menjadi tempat berbiak sangat kondusif di tempat-tempat seperti kamp perkemahan. Tentu saja situasi itu harus menjadi perhatian lembaga-lembaga terkait seperti UNRWA dan Bulan Sabit Palestina untuk melakukan tindakan atas kemungkinan adanya penyebaran virus flu babi.

Kamp-kamp Palestina di Libanon sendiri secara fondasi sangat rapuh, sistem sanitasi air yang tidak higinis dan bercampur dengan air minum. Akibatnya, populasi lalat dan bakteri semakin tak terkendali. Bau busuk dan berbagai penyakit juga menusuk hidung di mana-mana, ditambah lagi tingkat hunian yang padat dan atap rumah-rumah yang yang berhimpitan sehingga sinar matahari tidak dapat masuk ke ruangan, yang akhirnya tingkat kelembaban akan sangat tinggi.

Selain itu, pembakaran sisa-sisa sampah di depan kamp-kamp perkemahan, di gang-gang, di dekat sumur-sumur air dan sekolah-sekolah, yang itu semua berpotensi menimbulkan bencana penyakit dan polusi lingkungan di sekitar kamp-kamp perkemahan Paelstina di Libanon.

Kondisi buruk itulah yang diungkapkan LSM Syahid, yang pada hasil laporan investigasinya mengingatkan lembaga-lembaga terkait untuk mengambil tindak selazimnya untuk melindungi mereka, khususnya para siswa dari serangan pelbagai penyakit.

Lebih jauh LSM itu menyerukan kepada pihak-pihak itu agar membangun MCK-MCK yang bersih yang dilengkapi dengan air bersih, sabun dan alat-alat kebersihan lainnya di sekolah-sekolah. LSM itu juga menyerukan adanya pengarahan-pengarahan terhadap semua pengungsi Palestina yang berada di kamp-kamp perkemahan di Libanon.

Dr Majdi Kareem, Direktur Organisasi Tayyebah yang terlibat aktif di salah satu kamp perkemahan itu, mengatakan kepada Aljazeera, Senin (14/9), sekolah-sekolah di kamp-kamp itu sangat padat. Setiap kelas diisi oleh 60 siswa, dan itu berarti jika satu saja dari mereka terserang flu babi maka akan menular secara cepat ke jumlah yang sangat banyak, bahkan akan membahayakan semua penghuni kamp, ditambah lagi tingkat kepadatan itu tidak sekadar di sekolah tapi juga di kamp-kamp itu sendiri.

Di sekolah-sekolah itu juga terjadi kekurangan air yang memicu berbiaknya berbagai penyakit menular. Belum lagi penjaja-penjaja jajanan anak-anak yang tidak diawasi. “Kami banyak temukan yang dijual itu sudah hampir kadaluarsa atau sudah benar-benar kadaluarsa,” ujar Kareem.

Kareem juga memberikan catatan khusus di Kamp Nahr El-Bareed, khususnya mereka yang masih tinggal di rumah-rumah yang alakadarnya setelah rumah-rumah mereka di kamp-kamp roboh, mereka semua tinggal di ruang-ruang yang sangat panas saat musim panas dan sangat dingin di saat musim dingin.(milyas/aljazr)

 

0 Komentar

Arsip