Sejarah Lorong Bawah Tanah Gaza
Selasa, 28/07/2009 14:33 WIB
KNRP - Sejak invasi militer Israel ke Jalur Gaza beberapa waktu. Informasi tentang lorong bawah tanah Gaza kian tersingkap. Ia bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari rahasia kemenangan rakyat Palestina atas isolasi “gila” yang dilakukan Israel terhadap lebih dari 1,5 juta orang yang hidup di Gaza. Hingga kini, meski Israel dan Mesir, mengklaim berhasil menghabisi seluruh lorong bawah tanah yang dibuat oleh warga dan pejuang Palestina, namun tampaknya kegiatan lorong bawah tanah itu masih tetap berlangsung.
Lorong-lorong itu digali dengan target bisa melewati perbatasan Ghaza-Mesir. Panjangnya minimal 800 meter dengan diameter dua meter kurang lebih. Biasanya dilakukan sekitar 12 hingga 14 meter di bawah permukaan tanah. Satu lorong panjang itu, bila selesai, minimum menghabiskan biaya sekitar 20 ribu dollar. Uang itu, separuhnya biasa diberikan untuk pemilik rumah atau tanah tempat penggalian. Lalu separuhnya untuk peralatan dan juga para tukang. Meski biaya penggalian lorong ini mahal, tapi pemodal diprediksi memperoleh keuntungan berlipat antara 3 sampai 50 ribu dollar setiap bulannya.
Pekerjaan ini memang bukan sederhana. Selain memerlukan perlengkapan dan tenaga ahli yang siap menjalaninya, jenis tanah yang digali juga harus diperhitungkan. Para insinyur lorong yang akan menilai layak atau tidaknya lokasi tanah yang digali. Tanah itu antara lain harus lebih banyak unsur tanah liatnya, dan sedikit pasirnya. Jarak atau panjang lorong yang akan digali juga harus diukur dengan cermat, karena sangat berkait dengan kokoh tidaknya lorong yang digali serta jenis tanahnya. Setelah semua perhitungan selesai, proses dilanjutkan dengan menggali sumur berdiameter 1 meter sedalam 12 hingga 13 meter, dengan diperkuat dengan tiang-tiang penyangga di sisi-sisi lubang itu. Kedalaman seperti ini, tidak dilakukan pada waktu lalu mengingat sebelumnya lorong bawah tanah hanya digali sedalam dua atau tiga meter di bawah permukaan tanah saja. Tapi menurut para pakar lorong bawah tanah, kedalaman sangat dibutuhkan untuk menjadikan lorong bawah tanah tetap kokoh meski lalu lalang di atasnya alat transporasi dan peralatan perang berat milik Israel. Di sisi lain, dengan kedalaman lorong seperti itu, militer Israel tidak akan bisa mendeteksi keberadaannya. “Teknologi Israel hanya mampu mendeteksi kedalaman 8 meter saja,” ujar Hanei, salah satu pakar lorong bawah tanah.
Satu buah lorong bawah tanah, biasanya memerlukan sekitar 15 orang pekerja. Mereka akan mengerjakan proyek selama kurang lebih dua bulan tanpa henti siang dan malam. Bukan hanya pekerja penggali yang diperlukan, tapi juga harus ada setidaknya tiga orang insinyur yang ahli dalam merancang ragam kelaziman proyek lorong bawah tanah itu. Misalnya saja, pihak yang disebut sebagai insinyur itulah yang akan menyiapkan peralatan galian, tabung oksigen, penerangan, dan mengukur dalamnya lubang serta diameternya untuk menghindari kemungkinan ambruk. Tabung oksigen sangat diperlukan dalam proyek ini, karena penggalian dilakukan di kedalaman yang berbeda-beda tergantung kekokohan tanah. Kematian yang terjadi bagi pekerja proyek ini, selain karena ambruknya lorong, ada pula yang mati karena kehabisan oksigen dan menghirup udara beracun. Bahkan tidak jarang, lorong yang sedang dibuat dihantam oleh ledakan bom penjajah Israel, yang memang terus melacak keberadaan lorong-lorong ini, hingga mengubur siapapun yang ada di dalamnya. Sejak awal tahun 2008, diperkirakan para pekerja lorong yang meninggal telah lebih dari 35 orang.
Ada memang korban yang tidak sampai meninggal. Mereka umumnya, para pekerja yang sakit parah akibat menghirup gas beracun di bawah tanah. DR. Sayed Abu Hamzah, direktur rmah sakit Najjar di Rafah mengatakan, “Dalam beberapa pekan lalu, jumlah para korban kritis dari penggali lorong meningkat. Sebagian bisa diselamatkan, dan sebagian lain tak tertolong. Tidak sedikit dari mereka yang setelah sembuh, kembali lagi melakukan pekerjaan yang sama. Ini bukan hal baru. Penggalian lorong memang berbahaya, tapi tiga bulan terakhir kondisi ekonomi mereka memang semakin sulit.”
Sejarah Lorong Bawah Tanah
Jika mau dirunut, lorong bawah tanah ini mempunyai sejarah yang cukup panjang. Kisahnya kembali ke awal-awal tahun 80an, setelah ditarik garis demarkasi antara wilayah Mesir dan Israel pasca perundingan Camp David. Dampak dari garis demarkasi itu, berdampak pada kesulitan transportasi ekonomi antara Palestina dan Mesir. Ketika itulah, lorong-lorong bawah tanah mulai dikenal untuk sarana pemasokan barang kebutuhan penduduk Palestina. Kondisi itu lalu berkembang setelah meletupnya intifadhah pertama di tahun 1987, di mana lorong-lorong bawah tanah lebih banyak digunakan untuk suplai senjata para pejuang Palestina. Saat itu, lorong bawah tanah tak hanya menghubungi antara Palestina dan Mesir, tapi juga antara rumah-rumah pejuang di Palestina. Sejumlah lorong ada yang berjarak 30 meter saja untuk menghubungi antara rumah pejuang. Lorong itu digali dari dua arah dan bertemu di titik yang sama, untuk kemudian menyambung dengan lorong-lorong yang lain. Mirip dengan lorong tempat persembunyian tikus tanah.
Penjajah Israel yang mengetahui adanya lorong-lorong itu, segera menghancurkannya berikut rumah-rumah para pejuang. Para pejuang kemudian melakukan inisiatif lain untuk tetap memiliki kekuatan mereka dan melakukan proyek penggalian lorong bawah tanah yang lebih dahsyat lagi panjangnya. Tercatat dalam banyak dokumen perjuangan, para pejuang ketika itu bisa membuat lorong bawah tanah yang panjangnya mencapai 700 meter hingga 1000 meter, dengan kedalaman minimal 15 sampai 40 meter. Lorong-lorong itulah yang digunakan para pejuang untuk memasok ragam amunisi dan senjata sebagai modal perlawanan mereka mengusir penjajah Israel.
Sejak dua tahun terakhir, terlebih setelah pertengahan Juni tahun lalu ketka Gaza dikurung oleh Israel secara kejam, penduduk Palestina tak punya pilihan lain kecuali menggali lorong bawah tanah itu untuk menyambung hidup. Lewat lorong itulah mereka bisa mendapatkan makanan, obat-obatan, barang dagangan, alat elekronik, serta lainnya. Selain itu, lorong-lorong ini juga digunakan untuk lalu lalang banyak orang dari Mesir yang ingin ke Gaza, atau sebaliknya. Dalam sejumlah informasi, disebutkan ada lebih dari 800 orang yang masuk ke wilayah Gaza sejak satu tahun terakhir melalui lorong bawah tanah. Meskipun masuk ke lorong itu bukanlah tanpa risiko. Abu Ibrahim, salah satu dari mereka yang menggunakan lorong itu untuk masuk Gaza dari Mesir bercerita, “Saya dibayar 5000 dolar untuk membawa sejumlah barang dagangan dan kebutuhan Gaza. Saya punya pengalaman yang tak terlupakan, karena saya pernah hampir mati terkubur dalam tanah selama 15 menit kemudian berhasil di selamatkan. Benar-benar terasa sangat lama saya menanti penyelamatan ketika itu.” Diperkirakan, saat ini minimal ada 500 lorong bawah tanah yang menghubungkan antara Gaza di Palestina dan Rafah di Mesir.
Lorong-lorong itu terus dibangun. Setiap kali Israel menghancurkannya, tak lama setelah itu lorong lainnya dibuat. Boleh jadi, lorong yang dibuat setelah itu pun dilakukan di tempat yang sama. Bagi penduduk Gaza, itulah lorong-lorong kematian, sekaligus lorong-lorong kehidupan. Lorong-lorong itu diistilahkan media massa Arab dengan, “lorong-lorong yang menyerupai selang oksigen bagi penduduk Gaza.” (M. Lili Nur Aulia)