Senin, 06 Pebruari 2012

Dampak Multidimensional Dinding Baja

Kamis, 21/01/2010 16:06 WIB

KNRP –Para pakar di Jalur Gaza memastikan pada hari Ahad lalu bahwa dinding baja bawah tanah Mesir itu akan mengarah kepada kehancuran akifer, yaitu lapisan bawah tanah yang mempunyai kandungan air di Gaza. Demikian disebutkan dalam simposium yang digelar di Gaza yang berjudul Dinding Baja antara Mesir dan Gaza: Dampak, Lingkungan dan Konsekuensi Kemanusiaan.

Para pakar dan spesialis itu menyerukan universitas-universitas dan pusat-pusat penelitian untuk ikut serta dalam studi tentang dampak dinding baja Mesir di perbatasan Gaza itu.

 
Nezar Al-Weheidi, seorang pakar air mencatat bahwa logam dinding itu mengancam sistem penyimpanan air bawah tanah Gaza dan akan menyebabkan kehancuran akifer, sebagai akibat dari polusi. Hal ini pada gilirannya, sambung dia, akan merusak lingkungan, ekonomi dan dampak sosial bagi kedua negara, Mesir dan Palestina, yaitu penghancuran sumur air yang digunakan untuk pertanian dan industri lainnya.

Penggalian yang ekstensif bisa sampai ke air asin yang dipompa di bawah tanah yang akan menyebabkan tanah runtuh. Al-Weheidi ini memperingatkan bahwa itu juga dapat menyebabkan runtuhnya bangunan di Rafah. Terowongan-terowongan itu, kata dia, akan berkontribusi untuk aliran air asin.

Abed Al-Fattah Abed Rabu, dosen Ilmu Lingkungan di Universitas Islam memberikan pendapatnya, "Dinding baja, antara 20 hingga 30 meter di bawah tanah, itu akan menghambat aliran air dalam akifer bersama antara Sinai dan Gaza, yang akan mengancam akifer yang sudah menderita dari banyak masalah, termasuk kekurangan air, pencemaran dan salah urus.". Demikian seperti dikutip maannews, Selasa (21/1).

"Pembangunan tembok itu akan memberikan kontribusi untuk mencemari tanah akuifer akibat kelemahan dan inkonsistensi tanah yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi pada penurunan kualitas air. Hal ini juga akan menyebabkan peningkatan keadaan lingkungan local yang miskin dan akan mempengaruhi kesehatan dan kondisi lingkungan orang-orang di Gaza," sambung Rabu.

Sementara Mu'een Rajab, ekonom Universitas Al-Azhar mencatat bahwa "terputus-putusnya pekerjaan di terowongan itu akan mencegah pasar lokal untuk memiliki akses untuk produk-produk yang akan datang melalui terowongan itu, seperti persediaan makanan dan bahan bangunan. Hal ini akan mengurangi perkembangan pasar local yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kuburan resesi ekonomi "

"Dalam situasi seperti itu, Gaza akan memiliki pasar gelap dengan banyak barang termasuk kebutuhan dengan kenaikan harga dan antrian tak terbatas," ujar Rajab meningatkan.

Lebih dari 30.000 pekerja akan kehilangan pekerjaan mereka, ungkap Rajab, dan itu diperkirakan akan meningkatkan tingkat pengangguran.

Samir Hamtu, seorang jurnalis spesialis di Palestina menyatakan bahwa media harus mengambil jalur profesional dalam menghadapi konsekuensi dari konstruksi dinding itu, yakni dengan berfokus pada manusia, geografis dan aspek demografis masalah ini, bukannya meluncurkan kampanye yang akan mengarah ke peningkatan ketegangan antara Palestina dan Mesir.

Hamtu mendesak media memainkan peran penting dalam menyampaikan pendapat dan sudut pandang dari kedua belah pihak akibat dari dinding itu. "Isu yang paling penting adalah untuk fokus terkait segera dibukanya penyeberangan perbatasan dan mengakhiri pengepungan tanpa ketegangan yang meningkat yang akan merugikan kepentingan Palestina," saran dia.(milyas/maannews)

0 Komentar

Arsip