Jumat, 14/05/2010 08:14 WIB
KNRP - Amat sulit bagi bangsa Palestina yang telah hidup dalam Nakbah (bencana) selama 62 tahun untuk melupakan saat-saat pengusiran kasar atas mereka pada tahun 1948. Namun, mereka masih mengharapkan kembali ke rumah mereka seperti janji-janji dari para penguasa Arab, dan faktanya tragedi Nakbah itu masih terus berlanjut.
Banyak cerita yang dikenang oleh para generasi tua warga Palestina pada tahun-tahun pertama Nakba pada tahun 1948 itu. Haji Abdul Majid Abu Srour dari kota Beit Nativ dari pinggiran Yerusalem mengatakan bahwa ia tidak bisa melupakan pemandangan jasad mayat para syuhada yang diusahakan untuk dijejali ke rumah-rumah pada saat pengusiran, dan bagaimana mayat-mayat itu tewas akibat penyergapan orang-orang Yahudi.
Abu Srour yang sekarang ini tinggal di kamp pengungsi di Aida di Betlehem menambahkan, "Saya melihat setidaknya enam mayat tergeletak di tanah, dan saya bisa mencium bau itu. Mereka telah menghancurkan seluruh desa, termasuk masjid utama dan sudut-sudut dan rumah-rumah."
Wanita tua Palestina, Wadha Abdul Hadi al-Titi mengisahkan bahwa saat-saat paling sulit yang dialaminya adalah ketika ia berusaha menyelamatkan adiknya yang masih bayi dari desa Arak Manshia pada malam hari ke pinggiran desa, sementara sang ayah terus mencari mereka sepanjang malam di bawah serangan brutal ternak Yahudi di koloni Gad di dekatnya.
Wadha mengatakan bahwa setelah serangan itu kemudian ia dipaksa untuk pindah secara permanen. "Keluarga kami menempuh jalan ke kota barat Tarqumiya di barat Hebron, sampai kami menetap di sini di kamp Al-Fawar yang saat ini kami masih menmpatinya," kata dia kepada aljazeera.
Sementara Shawer Sarahneh menyoroti kenangannya tentang kehidupannya yang indah di Fallujah, tapi ia mengatakan kehidupan yang indah itu berubah menjadi tragedi lantaran serangan orang-orang Yahudi yang datang dari kota Haifa. Namun Sarahneh yakin bahwa suatu hari nanti ia akan segera kembali ke kehidupan yang indah itu.(milyas/aljzr)