Minggu, 01 Agustus 2010

Episode Ketiga

Pasar di Kota Mati Gaza

Belum dipublikasi

KNRP - ”Pasar-pasar yang kosong.... persediaan uang yang sangat sedikit.... air muka yang penuh duka dan kesedihan.... rumah-rumah yang dijajah oleh derita dan ketidakmampuan...” Dengan kalimat-kalimat seperti itulah, mungkin sedikit bisa digambarkan kondisi Jalur Gaza, di pintu bulan mulia, Ramadhan.

Hasil pengamatan Islamonline terhadap kondisi umum di Gaza, memang muram. Huda Asthal, seorang anak Gaza, mengatakan, ”Ayah saya menganggur sudah bertahun-tahun. Semua pilar kehidupan rumah kami rapuh tidak berfungsi. Saya kira, nanti kami semuanya akan berpuasa malam dan siang hari Ramadhan. Tidak ada tempat untuk berbuka puasa dalam situasi yang sangat sulit ini...”

Sementara Ehab Ashqar (14), yang mewakili remaja Gaza, sudah menulis surat ”permohonan maaf” kepada Ramadhan. Dengan ungkapan puitis, ia mengatakan, ”Semua perbatasan tertutup di depan kami. Dengan cara apapun mereka berusaha mengepung kami dan membunuh kami secara perlahan.... bagaimana kami bisa membiarkan Ramadhan hadir di antara kami dan masuk ke rumah-rumah kami di Gaza..?”

Gaza. Negeri yang dibombardir Israel selama 22 hari di awal tahun ini, kondisinya semakin tak menentu. Apalagi, mereka telah hidup dalam blokade tidak manusiawi oleh Israel selama tiga tahun. Banyak lembaga kemanusiaan internasional yang sudah mewaspadai hadirnya bencana kemanusiaan di Gaza.

Liputan langsung Islamonline di Gaza menunjukkan wilayah yang didiami 1,5 juta jiwa itu memang nyaris menjadi wilayah mati. Toko-toko yang biasanya banyak menjual barang-barang keperluan bulan Ramadhan kini sepi dari barang dagangan. ”Kami sekarang di pintu Ramadhan. Semua orang datang kepada kami bertanya ingin membeli persiapan Ramadhan. Tapi mereka pulang dengan tangan kosong karena tidak ada yang bisa mereka dapatkan di pasar.. Padahal bulan Ramadhan sebelumnya bagi kami adalah musim jual beli yang membahagiakan... ” Demikian ujar Muhammad Faraj, salah seorang penjaga toko.

0 Komentar

Arsip