Episode Pertama
Belum dipublikasi
KNRP - Air mata perpisahan menetes deras di pipi Adil, pemuda usia 20an tahun. Ia teringat rekannya Thoriq Qashta (19) yang akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Qashta ditengarai tidak kuat menghisap aroma bensin yang begitu mencekat di dalam lorong bawah tanah yang menghubungkan Gaza dan Mesir.
Toh, duka dan kesedihan itu nyatanya tak menghalangi dirinya sendiri untuk tetap bergulat dengan pasir kematian di lorong-lorong bawah tanah. Setelah menangis tersedu, Adil sebagaimana juga ratusan pemuda Gaza lainnya, kembali menggali tanah dan masuk ke dalam lorong-lorong maut itu. “Sulit sekali berpisah dengan teman yang paling baik... Apalagi bila kita kemudian hadir di tempat meninggalnya, dan kita meneruskan sendiri pekerjaan yang merenggut nyawanya.... Tapi kami tidak punya alasan lain.. jika kami berhenti bekerja, Gaza akan mati... ” ungkap Adil setelah air mata di pipinya sedikit mengering.
Adil pasti tahu bahwa lorong itupun bisa merenggut jiwanya, tapi ia tak punya pilihan lain. Bayangkan bagaimana keadaan 1,5 juta orang yang selama tiga tahun dikurung dari kebutuhan untuk bisa hidup. Dan itulah yang terjadi hingga hari ini, di Jalur Gaza.