Ramadhan di Palestina
Belum dipublikasi
KNRP - Agresi Israel bulan Januari lalu, menghancurkan banyak masjid-masjid di Gaza yang hingga satu tahun berselang masjid-masjid itu belum bisa dibangun kembali karena blokade yang masih diberlakukan rezim Zionis. Namun warga Gaza tetap semangat menyambut bulan Ramadan, meski mereka harus salat di masjid-masjid yang dinding-dindingnya terbuat dari plastik, nilon dan beratapkan daun palem.
Masjid dari plastik itu bisa dijumpai di kamp pengungsi di Jabalia. Anak-anak muda di kamp pengungsi itu bernisiatif membuat tempat salat yang dindingnya ditutupi dengan plastik atau kain nilon agar warga kamp bisa tetap berkumpul melaksanakan salat jamaah bersama, terutama salah tarawih selama bulan Ramadan.
"Seluruh bumi adalah tempat untuk menyembah Allah. Bahan-bahan bangunan untuk membangun masjid tidak kami miliki, tapi kami masih punya plastik dan daun palem," kata Bilal, seorang pemuda Gaza yang sedang membersihkan masjid dan membuat sedikit ornamen hiasan di "masjid plastik"nya bersama seorang temannya bernama Badr.
Tak jauh dari mereka, seorang warga Gaza yang sudah tua bernama Abu Ahmed. Ia menyaksikan kedua anak muda itu berusaha menjadikan "masjid plastik" itu sebagai tempat yang nyaman untuk salat. Tapi bagi Abu Ahmed, ia mengaku tidak sanggup salat tarawih di masjid tersebut.
"Saya tidak pernah meninggalkan salat tarawih dalam kondisi apapun. Tapi Ramadan tahun ini berbeda. Jamaah di masjid plastik terlalu penuh sesak dan hawa di dalamnya sangat panas. Orang setua saya tidak kuat dengan kondisi seperti itu," keluh Abu Ahmed.
Salah satu masjid di Gaza, Masjid Al-Qe'qa' ben Amr yang mampu menampung 1.500 jamaah, kini cuma mampu menampung 300 orang karena sebagian bangunan masjid itu hancur saat agresi Israel bulan Januari lalu. Menurut Imam Masjid Al-Qe'qa, salat di masjid plastik atau di sisa-sisa reruntuhan masjid sama beratnya.
Di masjid Al-Qe'qa, ketiadaan listrik, tidak pintu dan jendela yang tersisa di masjid itu membuat suara-suara bising dari luar terdengar dan bisa mengganggu kekhusyukkan salat. "Tapi itu semua tidak melemahkan semangat warga Gaza menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan. Kami akan melakukan yang terbaik, meski kami harus salat di jalan," tegas Imam Masjid Al-Qe'qa.
"Mereka (Israel) boleh menghancurkan masjid-masjid kami, tapi mereka tidak pernah bisa menghancurkan semangat kami," tambah Badr, seorang anak muda Gaza. (aisyah/iol)