Kamis, 09 Pebruari 2012

Kapal Kebebasan Versus Bajak Laut Israel

Sabtu, 05/06/2010 20:07 WIB

*Nabil Sahli

KNRP - Terungkap sudah gambaran rasis Israel secara jelas, tepatnya pada Senin (31/5/2010) dini hari para penguasa Israel mencoba menyulap gambar itu untuk kepentingan entitas mereka sang perampas, melalui usaha pembunuhan atas kebenaran dan membunuhi para pemilik kebenaran itu melalui pembantaian, dimana kekuatan angkatan laut Israel dengan dukungan udaranya itu menyerang Armada Kebebasan yang tengah berupaya guna mematahkan isolasi yang tidak adil itu yang dikenakan terhadap Jalur Gaza sejak tiga tahun lalu.

Perlu dicatat bahwa langkah ancaman Israel itu telah meningkat dalam beberapa hari lalu dengan memberikan isyarat untuk mencegat armada kapal kebebasan kemanusiaan itu dan penyitaan terhadapnya, dimana kapal-kapal itu membawa lebih dari sepuluh ribu ton bantuan kemanusiaan, selain itu juga ancaman penangkapan atas lebih dari tujuh ratus lima puluh solidariter yang berada di kapal yang berasal dari empat puluh empat negara dari empat penjuru bumi, ada juga 44 pejabat pemerintah, parlemen dan politikus dari negara-negara Eropa dan Arab, termasuk 10 anggota parlemen Aljazair dan sejumlah tokoh terkemuka dari Eropa.

Fakta Armada Kebebasan
Meskipun adanya ketidakmampuan masyarakat internasional dan statemen-statemen Arab untuk memecahkan pengepungan yang dikenakan terhada Gaza sejak musim panas tahun 2007, armada kebebasan tidak berhenti dalam mendukung Gaza dan orang-orang yang berada di sana yang terkepung (1,5 juta warga Palestina, lebih dari 60% di antaranya adalah anak-anak dan orang tua), dan empat konvoi berhasil punya akses dan memberikan bantuan kepada rakyat Gaza yang cemas dan terus bersemangat untuk sebuah kebebasan itu, di lain pihak tentara Israel menghalang-halangi tibanya lima konvoi itu di Jalur Gaza dan adalah konvoi kebebasan terakhir yang angkatan laut Israel berhasil menyerbunya saat fajar pada hari Senin (31/5/2010) di perairan internasional.

Mereka yang berada di balik bantuan kemanusiaan itu menyebutkan bahwa Armada Kapal kebebasan itu membawa lebih dari 10 ribu ton bantuan medis dan bahan bangunan, kayu dan makanan untuk anak-anak, serta seratus rumah jadi untuk membantu puluhan ribu orang yang kehilangan rumah mereka selama agresi Israel di Gaza

Kampanye bantuan kemanusiaan internasional untuk mendukung Gaza itu juga mencakup 500 roda listrik untuk digunakan oleh para penyandang cacat fisik, terutama sejak perang terakhir itu yang menyisakan sekitar enam ratus orang-orang cacat, sebagian besar anak-anak. Dan total nilai bantuan kemanusiaan itu sekitar sepuluh juta dolar AS.

Bantuan tersebut jika benar-benar tiba maka itu akan mengurangi penderitaan orang-orang di Jalur Gaza, di mana tingkat pengangguran di sana lebih dari 60% dari tenaga kerja, belum lagi penyebaran kemiskinan yang ekstrim di antara dua pertiga dari masyarakat di Gaza lantaran embargo ekonomi yang tidak adil, yang itu membuat pilihan yang sulit baik bagi sebuah keluarga di Gaza atau seorang pekerja Palestina yang menanggung beban lebih dari lima orang karena semakin banyaknya lansia dari penduduk Gaza tersebut, yang kami maksud itu adalah anak-anak yang merupakan lebih dari 50% dari populasi Gaza.

Bentuk Pembantaian
Meskipun kapal-kapal kebebasan itu hanya membawa bantuan kemanusiaan, kekuatan angkatan laut Israel tetap saja menyerbu kapal kebebasan itu. Pasukan Israel dengan dukungan helikopter dan pasukannya melakukan pendaratan di atas kapal-kapal itu untuk sebuah pembantaian, dan pembenaran terhadap pembantaian Israel itu telah disiapkan di muka, di mana berbagai media di Israel menyatakan bahwa unsur-unsur komando dari Angkatan Laut Israel menembaki massa yang bersolidaritas dengan orang-orang di Jalur Gaza itu setelah mereka diserang oleh beberapa peserta dalam konvoi itu dengan pisau dan parang.

Televisi Israel tidak mengatakan apakah ada korban di kalangan militer Israel atau tidak. Pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Israel yang menyerbu kapal kebebasan untuk solidaritas itu telah menyebabkan kematian enam belas solidariter yang sebagian besarnya dari Turki, dan melukai puluhan lainnya. Pembantaian Israel terhadap armada kebebasan itu telah memicu eskalasi sikap Turki, dimana Turki memperingatkan Israel atas konsekuensi yang tidak bisa diperbaiki terkait hubungan bilateralnya setelah pembantaian itu, dan Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan bahwa pembantaian Israel merupakan pelanggaran yang nyata atas hukum internasional, dan itu bisa memiliki konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki dalam hubungan Turki-Israel, dan Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan bahwa pihaknya telah memanggil Duta Besar Israel Gabby Levy untuk meminta klarifikasi darinya tentang kejadian itu.

Kementerian Luar Negeri Turki itu menambahkan, Israel harus menanggung konsekuensi dari perilaku ini, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Disebutkan juga bahwa sejak beberapa tahun lalu arah sikap Turki mulai condong kepada hak-hak dan isu-isu Arab, terutama masalah Palestina.

Arab 48 dan Advokasi Mereka atas Gaza
Seperti diketahui bahwa orang-orang Arab 48 telah berjuang melawan penjajah Israel, selain juga solidaritas mereka dengan saudara mereka di Tepi Barat dan Jalur Gaza, terlebih lagi pembelaan mereka terhadap Al-Quds (Yerusalem) dan perlawanan mereka dari upaya yahudisasinya, maka pada titik inilah mencuat nama Sheikh Raed Salah sebagai simbol minoritas Arab di Jalur Hijau dan para pemimpinnya, di mana dia berpartisipasi dan memberikan kontribusi dengan rekan-rekan lainnya dalam pembelaan terhadap identitas Arab Palestina yang bersejarah dengan dimensi Arab dan islamnya.

Sebagian dari ungkapan-ungkapan pembantaian yang mencuat pada tingkat minoritas Arab itu adalah bagaimana beberapa anggota Knesset meminta tanggung jawab Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan tanggung jawab Menteri Pertahanan Ehud Barak atas kematian setidaknya 16 aktivis di papan kapal yang hendak mematahkan pengepungan Jalur Gaza, dimana para anggota Knesset itu menyebutnya sebagai ‘pembantaian’ dan menyerukan kepada minoritas Arab di Israel (1,4 juta warga Palestina) untuk menyatakan pemogokan dalam beberapa hari mendatang.

Seorang anggota Knesset, Mohammad Baraka dari Front Demokratik untuk Perdamaian dan Kesetaraan, dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa pembantaian yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel di laut pada waktu fajar pada hari Senin (31/5/2010) itu adalah kejahatan yang direncanakan terlebih dahulu sesuai dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Perang Ehud Barak. Baraka juga menambahkan bahwa pemerintah kejahatan perang itu sepanjang waktu telah membahas eskalasi berdarah di wilayah tersebut dan mereka menemukan dalam kampanye bantuan internasional itu sebuah kesempatan untuk melakukan pembantaian ini untuk meredakan eskalasi yang berbahaya di wilayah ini.

Baraka menekankan, “Bahwa pembantaian ini tidak bisa berlalu tanpa reaksi kesatuan Arab kami untuk mengatakan pernyataanya di depan penjahat yang zalim." Ia menyerukan pemogokan umum dengan mengatakan bahwa hal itu akan dibawa ke Komisi Tinggi Tindaklanjut Masyarakat Arab di Israel. Baraka juga meminta "untuk penyelidikan internasional atas kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah Israel dan tentaranya, dan untuk membawa penjahat perang dari para pemimpin Israel dan tentaranya ke penuntutan hukum internasional."

Dia menambahkan bahwa "Benjamin Netanyahu harus menarik kesimpulandan bahwa ia harus hengkang bersama-sama dengan kabinetnya." Perlu dicatat bahwa minoritas Arab telah menjadi obsesi Israel dan para pengambil keputusan di Israel, di mana mereka secara demografis punya nilai yang signifikan, apalagi adanya tindakan perlawanan yang meningkat dari minoritas Arab di wilayah itu untuk beberapa tahun dengan kesadaran perlawanan yang menempel pada pihak identitas Arab dalam melawan argumen keyahudian negara.

Kewajiban Palestina dan Arab
Jelas bahwa komponen kebijakan Israel terkonsentrasi pada titik-titik penting, terutama pada titik untuk mempertahankan perpecahan Palestina agar mengubur mimpi Palestina dalam hal hak kembali dan pembentukan negara Palestina dengan Al-Quds sebagai ibukotanya. Untuk ini dan setelah terungkapnya citra rasis Israel itu serta fenomena meluasnya solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina, maka sangat penting untuk mengakhiri perpecahan Palestina sesegera mungkin, dan memulihkan persatuan Palestina untuk menghadapi badai yahudisasi Israel atas Al-Quds dan kota-kota Palestina lainnya, dan ini akan meningkatkan kampanye solidaritas terhadap isu Palestina, serta dikokohkannya untuk keberhasilan dalam memecah pengepungan Jalur Gaza dalam waktu dekat, terutama karena ada desakan internasional ke arah yang disebutkan itu.

Penting juga dikatakan, adalah kewajiban di atas pundak negara-negara Arab untuk menciptakan pernyataan media Arab yang bersatu terhadap pembantaian Israel yang berulang-ulang itu dan yang paling terbaru adalah pembantaian yang dilakukan atas kapal kebebasan, yaitu dengan mengadopsi pembentukan Komite Arab dalam rangka Liga Arab yang berusaha untuk mengadili para penjahat perang di Israel dengan dukungan para pakar hukum Arab dan solidaritas pakar hukum asing, dengan itu dapat menyeret para penjahat perang di Israel ke pengadilan internasional setelah karakterisasi kejahatan yang dilakukannya terhadap rakyat Palestina dan bangsa Arab, apalagi untuk mengadili para penjahat perang Israel yang bertanggung jawab atas pembantaian terhadap mereka yang bersolidaritas dengan orang-orang dari Jalur Gaza, terutama Perdana Menteri Israel dan Menhannya serta Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman, yang itu akan menghalangi jalan atas upaya Israel untuk membenarkan pembantaian.(milyas/aljzr)
 

*Kolumnis Aljazeera

 

0 Komentar

Arsip