Senin, 06 Pebruari 2012

Menyingkap Hubungan Dagang Israel

Sabtu, 09/01/2010 14:56 WIB

KNRP - Sebuah laporan yang disusun oleh Asosiasi Rekonstruksi untuk Pembangunan dan Pengembangan Ekonomi di wilayah Palestina yang diduduki Israel pada tahun 1948 menyingkapkan ihwal adanya hubungan perdagangan antara Israel dengan negara-negara Arab dan Islam, yang nilainya menurut langka-angka statistik Israel itu mencapai miliaran dolar.

Laporan ini sendiri didasarkan kepada Biro Pusat Statistik Israel dan Lembaga Ekspor Israel pada tahun 2008 sampai Oktober 2009. Demikian diberitakan Aljazeera, Jum’at (8/1).

Laporan yang dirilis oleh General Research Center itu menegaskan, tahun 2008 merupakan pemicu tuas adanya pertukaran ekonomi itu, dan terlihatnya geliat gerakan komersial tersembunyi dan aktif yakni berupa impor dan ekspor. Laporan itu menunjukkan bahwa barang-barang Israel berada dan hadir di seluruh dunia Muslim dan Arab tanpa kecuali.

Dikatakan lebih jauh, produk Israel bahkan hadir di tiga negara dimana Israel memboikotnya, yaitu di Iran, Suriah dan Lebanon, di mana barang-barang itu hadir oleh pihak ketiga yang tidak mencantumkan identitas bahwa barang itu Made in Israel.

Direktur Jenderal Asosiasi Rekonstruksi, Yusuf Awawdi menjelaskan bahwa pertukaran perdagangan antara Israel dengan dunia Muslim dan negara-negara Arab itu merupakan pertukaran secara langsung, dan dalam beberapa kasus melalui perantara, dan Siprus adalah saluran terbesar untuk ekspor dan impor barang-barang Israel itu di antara para pihak terkait.

Awawdi lebih lanjut menambahkan, boikot apapun yang tidak disertai oleh pengembangan diri atas industri dan pertanian maka itu pasti akan berakhir gagal, karena pihak yang memboikot setelah beberapa waktu akan terpaksa untuk mengimpor dan mengkonsumsi dari apa yang ia sendiri tidak memproduksinya.

Sementara itu Direktur Pusat Ekspor Israel, David Artzi, menegaskan bahwa barang-barang Israel ada di semua negara-negara Arab dan Islam. "Kecuali Iran, Suriah dan Lebanon, karena mereka sebagai negara-negara musuh dan Israel melarang adanya perdagangan dengan musuh-musuhnya. Mungkin ada boikot resmi terhadap  barang-barang Israe, tapi itu pada faktanya tidak ada," tukas dia.

Israel sendiri mengekspor teknologi tinggi, agro-industri, hasil-hasil tanaman (sayuran, buah-buahan dan jeruk) yang itu semua menyerbu pasar Arab. Sebaliknya Israel mengimpor minyak dan gas dari Arab komoditas utama dan derivatif.

Artzi juga menunjukkan bahwa Israel menjual barang-barangnya ke Arab Saudi dan Irak melalui pihak ketiga. Sementara di Maroko dan Indonesia, sambung Artzi, terjadi pembelian barang-barang Israel secara langsung tapi mereka menghilangkan kata-kata "Made in Israel", sedangkan di Mesir, mereka membeli langsung dari orang-orang Israel.

Terkait Yordania, Artzi mengatakan bahwa di sana ada sejumlah pabrik besar yang pemiliknya orang Israel dan ditulis pada barang-barang Israel itu dengan "Made in Jordan", dan dari sana lalu dijual di pasar-pasar Arab dan Islam padahal semua juga tahu siapa pemilik pabrik barang-barang itu.
 

Adapun terkait senjata pemboikotan yang diadopsi oleh negara-negara Arab dan Islam, Awawdeh mengatakan bahwa senjata itu terkadang berubah menjadi pedang yang dikontrol dan dikenadlikan oleh Israel, yang tidak ragu-ragu dengan pedang itu mereka melambaikan tangan dan ancaman sesuai dengan tujuan dan kepentingannya.

Dan, mungkin apa yang terjadi di Turki beberapa bulan lalu merupakan bukti terbaik ihwal itu, karena posisi Turki yang anti-Israel dan mendukung Palestina, maka ada kampanye boikot di Israel terhadap pariwisata dan barang-barang Turki.

Salah seorang pengusaha, Mustafa Ahmed, salah satu warga dari Palestina 48, memberikan komentar, “Pintu-pintu perdagangan dengan dunia Arab sering menutupi kami, lantaran kami memegang paspor Israel, tapi sayangnya ada hubungan dagang aktif tetapi dikemas dan tersembunyi dengan banyak pengusaha Yahudi."

Mustafa mengimbuhkan, "Saya telah mencoba untuk mengimpor kristal dari Mesir tapi mereka menolak dengan dalih bahwa mereka tidak mau berurusan dengan Ekonomi Israel, dan saya menawarkan untuk mengekspor produk untuk memanaskan air ke dunia Arab dan saya ditolak karena dalih yang sama."

Dalam konteks yang terkait, saat ini sudah dimulai genderang dari fase III dan yang terakhir dari rancangan statistik dan pertukaran informasi antara Israel dengan negara-negara Arab yang melingkupi Laut Tengah.

Rancangan itu terkait pada masalah-masalah statistik dan informasi yang merupakan bagian dari Program Midestat yang dibiayai dan disponsori oleh Uni Eropa, dengan maksud untuk pertukaran informasi statistik dan pertukaran pengalaman antara negera-negara itu.(milyas/aljzr)

0 Komentar

Arsip