Kamis, 19/11/2009 12:18 WIB
KNRP - Seluruh analis Palestina dan pakar dalam masalah Israel sepakat bahwa ancaman agresi Israel terhadap Jalur Gaza tidak bisa dikesampingkan, dan ancaman itu bukan barang baru. Mereka juga menekankan bahwa penjajah Israel memaksudkan ancaman itu untuk mempersiapkan opini publik agar menerima serangan militer mereka terhadap Gaza.
Diimbuhkan mereka, seperti dikutip Aljazeera pada Selasa (17/11), pencaplok Israel tengah mengirim pesan ke Barat agar mereka menerima serangan sebelumnya di Gaza sebagai "membela diri", dan juga menerima serangan untuk masa mendatang dengan dalih yang sama.
Untuk diketahui, baru-baru ini ancaman resmi serangan Israel atas Jalur Gaza semakin meningkat, melalui publikasi di media massa Israel secara terus-menerus mengenai informasi-informasi perkembangan roket Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) yang siap menyerang Israel.
Pakar masalah Israel, Amer Khalil menilai bahwa terus-menerusnya publikasi pers Israel terkait informasi persenjataan Hamas dan perkembangannya sebagai sarana untuk perang itu disebabkan karena institusi-institusi politik dan militer Israel ingin menempatkan publik Israel dalam keadaan cemas dan ketakutan, sehingga itu bisa dijadikan alasan untuk semakin meningkatnya anggaran militer mendatang, dan juga akan menggerakkan masyarakat Israel untuk kepentingan perang apapun di masa depan yang diprakarsai oleh Israel.
Tapi Khalil mengesampingkan jika Israel akan maju ke laga perang terhadap Gaza dalam waktu dekat, lantaran selama ketenangan masih terasa di pemukiman-pemukiman Israel akibat berhentinya roket-roket Hamas. Demikian juga kubu pejuang Palestina tidak lagi menggelar operasi pembunuhan atau penangkapan. "Sulit bagi Israel untuk pergi ke sebuah perang baru, terutama karena situasi regional dan internasional tidak membantu," kata dia.
Kendati demikian, Khalil tidak mengesampingkan kelanjutan adanya serangan terbatas di perbatasan Gaza untuk mencapai berbagai tujuan, di antaranya untuk melihat sejauhmana kesiapan pihak pejuang atau resistensi atau reaksi mereka, yang bisa jadi dapat membenarkan adanya perang masa depan, demikian juga tujuannya untuk berkomunikasi dengan agen-agen Israel terutama karena beberapa dari mereka berhasil dicokok.
Namun, penulis dan analis politik, Mustafa al-Sawaf melihat bahwa kemungkinan perang dan agresi di Jalur Gaza dimungkinkan dan tidak lama lagi. Ia menjelaskan, Israel sedang berusaha untuk merebut opini publik Israel dan internasional untuk menyerang pejuang dan Jalur Gaza.
Sawaf menegaskan bahwa tindakan agresi Israel itu merupakan doktrin dan itu dibuktikan oleh fatwa rabi yang membolehkan membunuh anak-anak, dengan dalih bahwa Israel sekarang ini tengah mempersiapkan jalan bagi kemungkinan agresi.
Dia menambahkan bahwa eskalasi terhadap Gaza meningkat setelah laporan internasional dari Goldstone, belum lagi propaganda media Israel yang secara khusus ditujukan ke Barat yang mengatakan bahwa apa yang Israel lakukan di Gaza adalah membela diri.
Sementara Talal Okal, pengamat politik, menilai kebijakan resmi Israel terutama di tingkat keamanan dan militer adalah sebuah upaya untuk menciptakan pembenaran dalam rangka untuk mempersiapkan opini publik guna agresi baru terhadap Jalur Gaza.
Dia menambahkan bahwa Israel sedang mencari-cari pelbagai pembenaran untuk melemahkan semua pihak Palestina, mereka menyerang Gaza dan melakukan penangkapan di Tepi Barat serta pelanggaran di Yerusalem. Talal mengingatkan agar harus berhati-hati atas niat Israel.(milyas/aljzr)