Selasa, 13/04/2010 17:35 WIB
KNRP - Majalah The Economist Inggris mengatakan bahwa orang-orang Gaza dan Perlawanan Islam Gerakan (Hamas) yang berkuasa di sana ternyata mereka mampu bertahan dan melawan embargo yang dikenakan pada mereka sejak empat tahun lalu, bahkan mereka mampu membuat beberapa kemajuan dan kemakmuran ekonomi.
Tehe Economist lalu membeberkan bahwa terowongan bawah tanah di perbatasan dengan Mesir terus bertambah dan ternyata mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyat Gaza meskipun sejumlah penggali terowongan mengeluh karena tidak mendapatkan keuntungan yang sebanding.
Sebuah laporan yang diterbitkan baru-baru ini untuk Parlemen Inggris menunjukkan bahwa meskipun adanya larangan Israel terhadap 73 jenis barang untuk diimpor ke Gaza, namun tercatat lebih dari empat ribu jenis barang masih dapat ditemukan di Gaza.
Laporan ini menjelaskan, sebagian besar produk barang yang tersedia di Gaza itu adalah dibuat di dalam Gaza ataupun diimpor secara illegal. Disebutkan juga bahwa harga sekantong semen menjadi sepersepuluhnya lebih murah yakni yang tadinya delapan dollar sejak dua tahun yang lalu, dan itu yang sangat membantu adaanya geliat pembangunan dan renovasi beberapa rumah dari empat ribu rumah yang hancur oleh Israel dalam perang di Gaza.
Sementara sejumlah saksi mata mengatakan bahwa mereka melihat banyaknya mobil mewah yang diselundupkan melewati terowongan, dimana mobil-mobil itu diangkut dari kontainer pengiriman bebas.
Pertumbuhan Ekonomi
Majalah ini juga mengatakan bahwa meskipun adanya penderitaan yang disebabkan oleh blokade Israel di Gaza, para analis ekonomi mengatakan bahwa Gaza mengalami pertumbuhan ekonomi melebihi Tepi Barat yang dijalankan oleh Otoritas Palestina. Para analis itu mencatat bahwa bensin yang dipompa melalui pipa bawah tanah dari Mesir ke Gaza ternyata memakan biaya sepertiga dari harga bensin di Ramallah.
Dikutip oleh The Economist, para pengamat mengatakan bahwa pelayanan kesehatan gratis tersedia luas di Jalur Gaza dibandingkan dengan di Tepi Barat, dan proses impor melalui terowongan ternyata lebih cepat dan lebih mudah ketimbang melalui birokrasi Israel yang ruwet, dan jaringan pos-pos pemeriksaan Israel yang membatasi pergerakan di Tepi Barat itu tidak ditemukan di Gaza.
Lalu majalah itu melanjutkan, warga Gaza secara umum merasakan manfaat harga barang yang murah, dan ekonomi Gaza didorong oleh kucuran uang tunai, baik yang mengucur melalui pemerintah lokal Hamas ataupun melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ditambahkan bahwa terowongan adalah pompa uang tunai lainnya bagi ekonomi Gaza, bahkan diceritakan bahwa salah seorang penjual mobil yang diimpor melalui terowongan ia dapat menjual satu mobil Hyundai dengan meraup keuntungan 13 ribu dolar.
Majalah Economist menegaskan, fenomena kehidupan yang menggeliat di Gaza tampaknya akan menuju ke arah yang lebih baik, di mana dalam waktu 14 bulan setelah serangan Israel, Hamas mampu mengenyahkan sebagian besar puing-puing dan reruntuhan akibat serangan itu. Sebagai contoh, Universitas Islam di Gaza yang sebelumnya hancur, saat ini kembali berdiri megah, demikian juga kafe-kafe dan toko-toko di Gaza kembali dipadati.
Sistem perbankan
Terlepas dari sanksi-sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap bank yang dimiliki oleh Hamas di Gaza, ternyata sistem perbankan melalui pengiriman uang informal itu dapat mendukung situasi di Gaza.
Majalah terbitan Inggris itu menunjukkan bahwa Gaza sangat menderita lantaran isolasi politik yang dikenakan padanya. Majalah juga menjelaskan bahwa Mesir sudah merasa frustrasi karena Hamas berhasil menggagalkan kembalinya Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Gerakan Pembebasan Nasional Palestina (Fatah) untuk menguasai dan mengontrol Gaza.
Hosni Mubarak sendiri sangat cemas adanya pengaruh Islam dari Gaza yang akan melintasi perbatasan negerinya, dan karena itu ia memperburuk situasi hubungannya dengan Hamas serta ia berupaya untuk mencekal para pemimpin Hamas yang akan keluar-masuk Gaza-Mesir, di samping juga pemerintah Mesir tengah membangun dinding baja bawah tanah di sepanjang perbatasan dengan Gaza sebagai upaya untuk menutup terowongan antara Mesir-Gaza.
Mubarak juga mengabaikan pernyataan para pemimpin Hamas yang mengatakan bahwa Mubarak tidak berusaha untuk menstabilisasi keamanan nasional Mesir, atau pengakuan Hamas bahwa mereka telah menghindari pembentukan hubungan yang kuat dengan kaum pergarakan Islam, oposisi Mesir, dan terutama dengan kelompok Ikhwanul Muslimin dimana Hamas secara mendasar sebenranya bagian dari Ikhwanul Muslimin.
Economist mengatakan bahwa pemerintahan Hamas telah mencapai kesuksesan di Gaza, meskipun itu dibarengi dengan adanya tekanan yang dihadapi baik dari pasukan Israel yang telah kembali untuk melaksanakan kebijakan serangannya ke Gaza Timur atau melalui upaya untuk mengisolasi Hamas yang dilakukan oleh pihak-pihak, regional atau Amerika.(milyas/aljzr)