Yahudisasi Al Quds
Sabtu, 20/03/2010 08:10 WIB
(Laporan Al Quds International Institutions)
Para pengamat dan pemerhati permasalahan Al-Quds (Jerusalem) sepakat bahwa dalam pandangan Zionis Israel, tahun 2010 adalah tahun penentuan akhir bagi kota Al-Quds sebagai ibukota Yahudi, sekaligus menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan mereka.
Faktor yang mendorong isu Al-Quds sebagai isu prioritas bagi Zionis Israel sangat banyak, diantarannya faktor politik, terkait dengan tidak adanya visi masa depan dan kompetisi antara partai-partai politik. Juga terkait dengan karakter negara, pandangan masyarakat terhadap negara serta kepercayaannya atas keberlangsungan eksistensi ‘negara’ Yahudi tersebut setelah kegagalan dalam dua perang terakhir, Lebanon (2006) dan Gaza (2008-2009). Serta kegagalan Zionis Israel dalam menentukan perjalanan dan arah kota Al-Quds ini setelah 43 tahun lamanya menjajah. Faktor lainnya, faktor agama, yaitu terkait perubahan perspektif kelompok garis keras Yahudi terhadap posisi Masjid Al-Aqsha yang mereka klaim sebagai “gunung sinagog” dan perubahan perspektif mayoritas masyarakat Yahudi tentang pentingnya membangun “sinagog ketiga” dan perannya dalam kehidupan bangsa Yahudi serta keberlangsungannya.
Perkembangan dan perubahan-perubahan ini diterjemahkan langsung di lapangan dengan melakukan yahudisasi atas kota Al-Quds yang belum pernah ada sebelumnya. Itu terlihat di tahun 2009 sebagai tahun yang paling banyak perkembangan terkait isu al-Quds, baik secara kuantitas maupun kualitas. Di tahun itu, semua bentuk dan karakter Islam-Kristen yang dimiliki oleh kota suci tersebut, dihapus oleh pihak Zionis Israel. Mulai dari tempat-tempat suci milik umat Islam dan Kristen, penduduk, tanah, identitas kebudayaan hingga arsitektur bangunannya dihapus oleh Zionis Israel.
Berdasarkan telaah dan analisa perubahan politik dan agama di negara Zionis Israel, serta aksi-aksi yahudisasi massif di lapangan, berikut analisa dan prediksi lengkap tentang perkembangan tersebut:
Pertama: Aspek Identitas keagamaan
Pada tahun 2010 diprediksikan akan terjadi perkembangan sebagai berikut:
1- Upaya serius untuk membagi Al-Aqsha secara permanen, dimana bagian barat daya masjid dikhususkan bagi orang-orang Yahudi. Dengan pembagian ini, pihak-pihak pemerintah Zionis dan kelompok-kelompok garis keras Yahudi akan menggunakan tempat itu sebagai tempat melakukan upacara keagamaan di hari-hari besar Yahudi. Pihak Zionis Israel diprediksi akan membangun jembatan besi di pintu Magharibah untuk melanjutkan infrastruktur bagi pembagian al-Aqsha. Ini bisa dilihat dalam gambar berikut ini:

Gambar 1: warna kekuning-kuningan adalah luas tempat ibadah , yang akan dibangun Yahudi
2- Melanjutkan proyek “Kota Suci Yahudi” dibawah dan di sekitar masjid Al-Aqsha, yaitu dengan meresmikan tempat-tempat yang sudah dijadikan terowongan. Proyek ini sudah masuk fase terakhir, khususnya di bagian selatan masjid Al-Aqsha. Kalau sudah begitu, maka bagian-bagian lain dari masjid suci ini, akan diprediksi mengalami hal yang sama. Seperti terlihat di gambar berikut ini:

Gambar 2: garis merah dan biru adalah terowongan di bawah Al-Aqsha dan sekitarnya
3- Akan memulai membangun kembali simbol-simbol agama Yahudi di Kota Lama (Baldah Qadimah)Al Quds. Setelah peresmian sinagog Khorob (sinagog rusak), Selasa 16/3/2010 yang merupakan simbol Yahudi terbesar dan terpenting di Kota Lama, pihak Zionis Israel direncanakan akan mulai membangun bangunan tambahan lain yang bisa memperkokoh esksistensi agama Yahudi di kota tersebut. Salah satu yang sudah santer adalah pembangunan sinagog ‘Quds Nur” yang sudah dibicarakan dan direncanakan tahun 2008 lalu. Kalau rencana ini direalisasikan, maka tempatnya adalah di atas kantor pengadilan Islam yang memang menempel di pagar sebelah barat masjid Al-Aqsha. Seperti yang terlihat di gambar berikut:
.jpg)
Gambar 3: kubah berwarna putih adalah sinagog Khorob

Gambar 4: sinagog Khorob terlihat dari masjid al-Aqsha

Gambar 5: terlihat sinagog Quds Nur dengan jendela kacanya yang menempel di tembok sebelah barat masjid Al-Aqsha
4- Melanjutkan menguasai atas tanah-tanah waqaf milik orang Kristen, khususnya milik gereja Orthodox di Kota Lama. Seperti yang terlihat di gambar berikut ini:

Gambar 6: titik-titik berwarna coklat ditulis dengan angka adalah tanah milik gereja Orthodox
Kedua: Perang demografi, ini terlihat dalam rencana-rencana berikut:
1- Pencabutan status kependudukan secara besar-besaran dari warga Arab dan Islam. Cara ini dijadikan senjata ampuh untuk mengeluarkan penduduk Arab dan Islam dari kota Al-Quds sebanyak mungkin. Seperti yang terlihat dalam data berikut ini:

Gambar 7: data pencabutan status kependudukan dari tahun 1967-2008
Yang berwarna biru = KTP yang dicabut tahun 1967-2007
Yang berwarna merah = KTP yang dicabut tahun 2008
Total KTP yang dicabut antara tahun 1967-2008 = 12.135 KTP
2- Mengintensifkan promosi al-Quds sebagai pusat penduduk, untuk menyeimbangkan antara penduduk Yahudi yang masih tinggal dengan penduduk Yahudi yang hengkang dari kota suci tersebut. Hal ini menjadi fokus tugas pemerintah kota (pemkot) Zionis pada tahun 2010. Juga diprediksi, pemkot dan pemerintah pusat Zionis Israel akan membangun tidak kurang dari 12.000 unit rumah baru di timur al-Quds. Sementara izin membangun bagi penduduk Palestina selama satu tahun hanya 200 rumah saja. Seperti terlihat dalam gambar berikut ini:
.jpg)
Gambar 8: peta perluasan permukiman Yahudi tahun 2009
Ketiga: prediksi perang soal tanah seperti berikut ini;
1- Kemungkinan akan dilakukan revisi perbatasan kota Al-Quds untuk menyesuaikan dengan batas tembok yang mengelilingi kota tersebut. Dengan begitu, ada sekitar 163 km2 masuk menjadi batas asli kota al-Quds yang dihuni oleh lebih dari 69.900 pemukim Yahudi. Seperti terlihat dalam gambar berikut:
.jpg)
Gambar 9: permukiman Yahudi yang masuk dalam area tembok di al-Quds
berwarna biru
2- Segera menyelesaikan kondisi atau status kampung-kampung Palestina yang dikontrol oleh pemkot Zionis, atau apa yang disebut oleh pihak Zionis sebagai “Telaga Suci”, khususnya kampung el-Bostan dan Sheikh Jarrah. Untuk kampung el-Bostan, yang ada di sebelah selatan Al-Aqsha, akan diselesaikan dengan perundingan, mengizinkan penduduk asli al-Quds untuk imigrasi. Dengan melanjutkan proyek “Taman Raja” di bagian kota dan merenovasi jalan dan rumah-rumahnya agar terlihat bernuansa Yahudi dan arsitek Herodiany.
Sedangkan untuk Kampung Sheikh Jarah sebelah utara Kota Lama, pihak Zionis Israel akan menyelesaikan dengan cara meningkatkan tekanan kepada asli al-Quds melalui peningkatan penyerangan pemukim Yahudi kepada penduduk tersebut dan menangkapi penduduk yang bermasalah secara keamanan serta mempersempit sumber dukungan yang diberikan oleh pihak Eropa, dunia Islam dan Arab kepada penduduk Al-Quds. Seperti yang terlihat dalam gambar berikut ini:

Gambar 10: kampung-kampung Palestina yang terancam dikosongkan secara paksa oleh Zionis Israel (yang bertanda putih)
3- Mengintensifkan aktivitas organisasi-organisasi permukiman Yahudi yang ada kaitannya dengan Zionis Israel di Kota Lama dengan membangun vila-vila. Pembangunan ini akan didukung secara legal formal dan dijaga keamanannya oleh Zionis Israel
Gambar 11: rumah-rumah yang akan dikuasai atau yang sudah dikuasai oleh lembaga-lembaga Yahudi di Kota Lama al-Quds
Keempat: perang kebudayaan akan diprediksi seperti di bawah ini:
1- Merubah nama-nama dan simbol kampung yang ada di Kota Lama secara menyeluruh, seperti yang sudah diputuskan di tahun 2009.
2- Merenovasi bangunan di Pintu Gerbang sebelah utara Kota Lama dan merubah arsitektur kota sesuai arsitek Herodiany. Dengan pengerjaan ini, menyebabkan pintu gerbang ini akan ditutup lama.
Rekomendasi:
Semua perkembangan cepat dan proyek-proyek Yahudisasi semakin tidak bisa dihentikan dan dibendung di tahun 2010, maka kami merekomendasikan hal-hal berikut ini:
1- Menjadikan Isu al-Quds sebagai isu pemersatu dan penyatu, dengan menggalang semua upaya pemerintah dan non pemerintah untuk membela Al-Quds.
2- Membantu secara materi kepada penduduk asli al-Quds agar bisa tetap tinggal di kota suci tersebut dan hidup secara independen dari pengaruh Zionis Israel.
3- Menghentikan koordinasi keamanan dengan pihak Zionis Israel untuk mengejar dan memburu para pejuang Palestina di Tepi Barat.
4- Menyerukan kepada KTT Arab di Libia agar bangsa Arab dan umat Islam bertanggungjawab penuh atas kota al-Quds berikut tempat-tempat sucinya, baik milik umat Islam atau orang Kristen. Segera mengambil sikap politik yang mendukung perjuangan dan kegigihan penduduk Al-Quds.
5- Mempertegas pentingnya rekonsiliasi nasional Palestina karena perselisihan internal Palestina tidak bisa dijadikan alasan untuk melepaskan tanggung jawab umat Islam dan Arab dari kota Al-Quds.
6- Menyerukan umat Islam untuk melakukan aksi-aksi solidaritas menentang kebiadaban Zionis Israel atas kota al-Quds dan tempat-tempat sucinya, baik milik umat Islam ataupun milik umat Kristen.
7- Mengintensifkan kepedulian ini melalui pemberitaan di media atas apa yang kini terjadi di kota Al-Quds, khususnya masjid Al-Aqsha, tanpa menunda-nunda lagi. (Am. Rais)